UAP-PUTU WIJAYA

WAKTU (1)

Detik jam terus terdengar menyesaki kamar yang sempit. Yang mengherankanku mengapa ia tak pernah penuh

 

HARI YANG KEMARIN (3)

Hari yang kemarin masih tetap kemarin hanya hari ini juga segera akan lenyap menjadi kemarin, sehingga yang kemarin bukan hanya kemarin tetapi berlapis-lapis seperti bukit yang menjadi gunung dan akhirnya dinding sebuah dunia lalu seseorang yang lain datang dan memasukinya sebagai hari esok

 

MAAFKAN (40)

Maaf katakan kepada ayah hari ini aku tak ke sekolah, bukan karena malas tetapi takut karena guru jahat, dia selalu melotot dan menghina menganggapku tak layak duduk di bangku muridnya, ia tak mau mengerti aku tak paham apa katanya sepatah pun, sebab ia menghajar tak pernah membimbingku belajar

 

SEBUAH LAGU (41)

Hapuslah airmataku di pipimu

 

RAMADHAN (43)

Sudah setengah bulan Ramadhan berjalan, tinggal setengah lagi yang akan datang, setelah itu Ramadhan akan berlalu, tetapi akan datang Ramadhan berikutnya, ketika setengahnya sudah berlalu, setengahnya lagi masih datang, sampai seluruhnya berlalu dan Ramadhan berikutnya datang

 

TUHAN (43)

Tuhan adalah Pimpinan bukan jimat kata seorang imam di atas layar televisi

 

SEMAKIN BANYAK TAK KUTAHU (63)

Semakin banya yang tak kutahu semakin gembira hidupku karena setiap menit kejutan yang membuatku betah meskipun kemudian berakhir dengan lelah tapi tak akan kutukar menjadi serba tahu hingga hatiku dingin membeku seperti biku

 

KURSI (67)

Di atas kursi itu ada nama pemiliknyam meskipun yang bersangkutan tak jadi datang, sementara jutaan orang yang antri untuk bisa duduk tak berani menyentuh, inikah hak asasi

 

KASIHAN (85)

Aku tidak benci kepadamu tetapi kasihan, meskipun kau sudah menyiksa dan menipuku karena ternyata tidak ada yang bisa membahagiakanmu, semakin kaucari semakin kau kehilangan karena kebahagiaan ada pada pengorbanan

 

DALAM RIUH (85)

Dalam riuh jalanan masih ada saja terdengar suara-suara halus yang mengatakan jangan, tetapi soalnya apakah kau mampu melakukan apa yang kauingin, karena banyak orang tak bisa melakukan kebajikan bukan karena jahat hanya karena ia tak berdaya

 

PULANG (86)

Mau pulang ke mana kalau kau tak punya rumah, di atas tanah yang kauinjak itulah kau pulang dan mengakkan rumah, walaupun kau lahir di seberang tetapi di sinilah kau sekarang, jadikanlah bumi ini tanah airmu sehingga kau tidak hanya sibuk mencari uang tak peduli merampok dari kocek pribumi, kau akan punya perasaan sedikit karena siapa lagi yang akan memelihara rumahmu kalau bukan kau

 

SUDAH SORE LAGI (87)

Sudah sore lagi seperti kemarin, datang waktunya untuk makan, nonton berita di TV, kemudian berbaring menunggu pagi, begitulah hidup berulang-ulang kalau tak ada tujuan, tetapi adakah yang lebih baik

 

MENUNGGU (87)

Menunggu adalah bersabar. Bersabar adalah mengatur diri. Karena kalau yang ditunggu sampai, kita harus siap

 

KENIKMATAN (88)

Apa yang kita nikmati dari hidup ini kawanku, apa yang kita resapi dari kehadiran ini kawanku, apa yang bisa kita berikan kepada kesempatan ini saudaraku?

 

SUARAMU BEGITU GEMBIRA (130)

Suaramu terasa lepas dan tanpa beban sehingga aku merasa disiram air bunga padahal kau hanya mengucapkan sepatah kalimat bahwa menyatakan perasaan itu adalah hak setiap orang

 

LELAH (132)

Lelah bekerja pemulung itu mengutuk-ngutuk pemilik warung yang dianggapnya hidup ongkang-ongkangan tetapi duit mengalir deras hingga timbul niat jahat tetapi tengah malam ketika melompati tembok hendak menggaet televisi ia tertegun menyaksikan tukang warung murung membandingkan nasibnya dengan para pemulung yang tak punya tanggung jawab tapi hidupnya enak

 

KAU BEGITU LIHAI (133)

Karena kau datang ketika orang lali berpesta kau pun ikut menari, minum dan mabok, tetapi tiba giliran bekerja memikul tanggung jawab kau entah di mana, begitu selamanya, kau begitu lihai bermain

 

UNDANGAN (139)

Undangan yang kulemparkan tak berhasil mendatangkanmu, tak perlu kutanyakan karena kau pasti punya alasan yang barangkali aku tak perlu tahu, tapi itu berarti semuanya akan berakhir sekarang, aku sudah terjaga dan barangkali memerlukan mimpi yang baru, selamat tinggal

 

TAKSU (156, paragraf 5)

Anak yang mahal yang sudah ditunggu puluhan tahun, lewat berbagai kelokan hidup, jadikanlah hidupmu mahal, berharga bagi nusa bangsa, sahabat-sahabat dan tetanggamu, jadikanlah tindakan-tindakanmu mahal yang dihormati oleh kawan dan lawan, jadikanlah kata-kata dan perbuatanmu mahal yang akan menjadi monumen kehidupan yang sudah bejat ini, jadikanlah hati dan pikiranmu mahal yang akan menjadi bintang dan bulan naru di kegelapan dunia yang dirampok oleh para pedagang dan penguasa-penguasa culas, jadikanlah hidup ini mahal kembali sehingga berharga dan dihormati oleh setiap insan, jangan seperti pedagang yang hanya ingin mengeruk keuntungan dari saku orang lain

 

ULAT BULU YANG TERLAMBAT (158)

Seekor ulat bulu merambat di atas rumput Manila terombang-ambing dari bilah ke bilah sehingga perjalanan yang pendek di tempuhnya jauh karena naik-turun berkepanjangan sedangkan seekor anjing cukup melompat sekali untuk menyeberangi jarak yang ditempuhnya dalam satu jam namun meskipun begitu lambat mencapai tujuan ia jadi tahu tiap jengkal jarak yang dilaluinya ia kenal setiap bilah rumput dan bertegur sapa dengan hampir semua butir-butir aiar sisa siraman pagi dari tukang kebun ia melihat semut-semut dan binatang lain yang berseliweran di antara rerumputan meskipun begitu lambat tetapi perjalanannya jauh lebih kaya dari lompatan anjing karena perjalanannya menjadi sekolahan tempat ia menumbuhkan dirinya sehingga ketika sampai di tujuan ia sudah jadi lebih siap menerima segala yang ada karenanya ia tidak menyesal mengapa sangat terlambat karena jika ia lebih cepat sedikit saja ia akan tergunting hancur oleh gigi-gigi pemangkas tukang kebun yang sedang menjalankan tugas rutinnya begitulah ulat bulu itu merasa diselamatkan oleh kelambatannya

 

TENTANG SEORANG KAYA (211)

Tentang seorang kaya yang merasa segalanya bisa dibeli dan memang bisa membeli segala-galanya tetapi tak mampu menahan dirinya untuk tidak terbeli, ia adalah sebagian dari diri kita

 

KAU MENANGIS PAGI-PAGI (211)

Kau menangis pagi-pagi untuk sesuatu yang tak kau ketahui, kesedihan itu begitu mendadak menyerangmu, kau tersedu-sedu sampai bungkuk di depan meja, panik mencari sebab-musabab yang tak pernah dapat kau ketahui dengan lengkap, sampai kaupegang kaki-Nya dan tahu bahwa sebenarnya kau sedang merasakan getaran tangis orang lain, yang tak pernah kau hiraukan

 

BAIK (222)

Baik tidak berarti apa-apa kalau kau tak sanggup menikmatinya. Baik akan dahsyat meledak kalau sebelumnya kau runyam. Jadi, ada baiknya kaurasakan yang tak baik agar mengerti kata baik dan sebaliknya. Hanya saja lebih baik jangan terbalik

 

POTRET (223)

Potret di dinding ternyata menjadi stasiun penampungan dari segala yang sudah terjadi, setiap kali menatapnya, kita serasa memasuki gerbang yang hiruk pikuk dengan masa lalu yang tak semua kita sukai, tetapi tak pelak lagi kita rindukan karena sudah terjadi dan tak bisa diulang walau selalu terbayang

 

BINGKAI (225)

Kita sudah panjang lebar bicara tentang bingkai, yang kita sepakati akan membatasi dan membentuk kemudian menyelamatkan diri kita dalam berbagai pengebaraan hidup, namun tetap saja selalu dapat kita persoalkan bahwa belum tentu kita sudah membicarakan hal yang sama, karena bingkaiu dan bingkaiku bisa bertolak belakang tanpa kita ngeh

 

SELAMAT DATANG (232)

Selamat datang, kata tahun silam membukakan pintu belakang supaya tamunya langsung pergi

 

PUTU WIJAYA,

Jakarta, 1995-1999

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s