MELESTARIKAN BUDAYA SUNDA MELALUI SUNDATRICAL

 

Jumat, 31 Mei 2013, mungkin menjadi hari bersejarah bagi teman-teman Humas B 2010 Fikom Unpad. Pasalnya, hari itu, mereka akan ‘pecah balon’ dengan menyelenggarakan sebuah acara yang merupakan salah satu tugas mata kuliah di kampus mereka, PR Event. Sundatrical. Nama acara yang menurut saya cukup unik. Akronim dari Sunda Teatrical. Jadi, Sundatrical menampilkan pagelaran teater dengan mengangkat budaya Sunda., yaitu cerita Ratu Pantai Selatan.

Selain menampilkan pementasan teater, disuguhkan pula komunitas-komunitas Sunda yang ada di Bandung, seperti komunitas pembuatan kujang, komunitas yang menjual pakaian khas Sunda, pameran foto-foto kegiatan komunitas tersebut, dll.

Bagi saya, acara ini sangat menarik. Selain karena saya sangat jarang menikmati pementasan teater (mungkin karena saya yang kurang informasi) di kota Bandung, juga karena tidak banyak anak muda yang tertarik untuk menyelenggarakan pagelaran seni budaya dan menyaksikannya, termasuk saya.

Harga tiket pementasan ini dibagi menjadi 2 kategori. Kategori pertama, acara dimulai pukul 14.00-16.00 dengan harga tiket Rp 25.000,00 dan kategori kedua, acara berlangsung malam hari dengan harga tiket Rp 30.000,00. Saya memilih untuk datang pada jadwal siang hari, yaitu pukul 14.00. Saat tiba di lokasi, yaitu Graha Sanusi Unpad Dipati Ukur, saya tertarik untuk melihat-lihat pameran foto yang ada di pintu masuk. Sayang, acara sudah akan mulai. Jadi, saya memutuskan untuk langsung membeli tiket. Nah, tanda yang sudah membeli dan menyaksikan acara ini adalah dengan pemberian gelang dari pihak panitia. Saat saya masuk di gedung yang cukup besar tersebut, di barisan penonton baru hadir sekitar kurang lebih 10 penonton. Tapi, tak selang berapa lama datang penonton yang mengisi  bangku depan panggung. Di masing-masing bangka sudah tersedia lembaran yang berisi Sinopsis “Ratu Pantai Selatan”.

Di depan panggung sudah siap anak-anak, remaja, dan orang tua yang membawa alat musik tradisional sebagai ‘mukadimah’ acara ini. Di sudut sebelah kanan, juga ada sepasang laki-laki dan perempuan yang bertugas sebagai pembawa acara. Tidak sampai menunggu lama, acarapun dimulai. Dibuka dengan penampilan iringan musik tradisional sebuah komunitas Sunda. Lagu yang dibawakan yang saya tau hanya Sabilulungan, selain itu, cukup asing di telinga saya. Setelah penampilan iringan lagu, dilanjutkan dengan kesenian Benjang. Nah, saya suka dengan kesenian Benjang ini. Karena, sangat sedikit orang-orang yang tau bahwa Benjang ini sejenis dengan pencak silat. Ini sebagai bentuk perkenalan saya dengan kesenian ini dan menyaksikan secara langsung bagaimana Benjang ditampilkan.

Setelah pembukaan selesai dilanjut dengan pementasan inti, yaitu teater dari sanggar teater Anka Adika production. Sepanjang acara, pementasan ini diiringi dengan musik band dan dialog yang sudah direkam sebelumnya. Awalnya, saya pikir yang memainkan teater adalah teman-teman panitia itu sendiri (mungkin beberapa), ternyata setelah saya membaca sinopsisnya, semua pemain teater berasal dari sanggar. Ini tampak juga dari keluwesan mereka memainkan peran.

Acara ini berdurasi sekitar kurang lebih 2 jam. Selama itu penonton disuguhkan dengan tarian sunda sepasang penari, tari-tarian kolosal dari pemain teater, dan akting yang cukup menawan. Sangat disayangkan, tidak banyak masyarakat, anak muda, dan pihak lain yang menyaksikan acara ini. Padahal, dengan kita menonton pagelaran ini, bisa menjadi stimulus kita untuk jauh lebih mengenal budaya lokal, khususnya budaya Sunda.

Pagelaran yang disajikan tidak monoton hanya tarian tetapi diselingi dengan dialog canda-tawa yang disebarkan oleh pemain. Sehingga, melunakkan penonton yang menurut saya agak terkesan kaku karena barangkali disebabkan oleh jarak masing-masing bangku penonton cukup jauh, tidak berdempet-dempet. Mungkin, karena diantara mereka tidak saling mengenal. Dan, tanpa diduga dialog pemain tersebut mengocok perut penonton. Karena, memang penampilan mereka lucu secara spontan dan tampak alami tanpa dibuat-dibuat.

Selesai acara, saya tidak lantas pulang. Tapi, melihat-lihat apa yang dihadirkan oleh panitia. Mereka juga memberikan fasilitas kepada pengunjung untuk dapat foto dengan berlatar “SUNDATRICAL”. Di depan pintu masuk juga dipajang patung-patung hasil karya seniman Bandung dan menjual pakaian hitam-hitam khas seniman Jawa Barat. Di depan gedung berjejer stand-stand yang menyajikan jajanan. Saya tertarik dengan sebuah andong yang ternyata stand penjualan makanan yang berbeda dengan stand lain yang cenderung makanan western. Banyak sekali ragam makanan ini, seperti lidi-lidian, cokelat ayam jago, cokelat kacang, permen telor cicak, permen kayu dan jenis lainnya. Sayapun tidak melewatkan kesempatan ini untuk membeli beberapa cemilan yang saya suka, seperti cokelat ayam jago, dan permen telor cicak. Harganya sangat terjangkau. Berkisar antara Rp 1000,00-Rp 3000,00. Ini seperti kembali ke masa-masa sekolah dasar. Hanya saja sudah berbeda harganya.

Saya terkesan dengan acara ini. Menarik dan berbeda dengan acara yang pernah ada. Semoga kelak menjamur kesempatan-kesempatan untuk menampilkan acara yang sejenis dengan tetap mengangkat kebudayaan asli daerah kita, Jawa Barat.

Sukses Sundatrical!🙂 20130531_141441

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s