Pameran Foto Bung Karno di Museum Asia Afrika

Bandung, 28 Juni 2013

Museum Asia Afrika kembali menghadirkan pameran foto yang bertajuk Bulan Bung Karno dengan menghadirkan 100 foto-foto langka dari Bung Karno. Foto-foto tersebut merupakan koleksi dan dokumentasi Alm. H. Demas Khalid Korompis beserta Inen Rusman. Pameran ini berlangsung dari tanggal 18-30 Juni 2013 dalam rangka refleksi 112 tahun Bung Karno.

Kehadiran pameran foto Bulan Bung Karno menjadi daya tarik wisatawan domestik dan asing untuk berkunjung ke Museum Asia Afrika.  Kumpulan foto-foto yang dipajang seakan menjadi magnet pengunjung untuk menikmati sajian yang dipertunjukkan oleh museum. Pengunjung dibawa ke masa-masa ketika Soekarno berjaya ditahun 1950-an. Beberapa foto tampak Soekarno sedang bersama tokoh-tokoh dunia, seperti Mao Tze Dong (RRC), Nikita Kruschchev (Rusia), Hirohito (Jepang), Pangeran Norodom Sihanouk (Pnom Penh) dan tokoh dunia lainnya. Adapula foto yang menampilkan Bung Karno bersama dengan keluarganya saat bersama dengan Fatmawati.

Selain itu, yang menarik perhatian saya adalah foto peletakkan batu pertama pembangunan kampus Universitas Padjadjaran kampus Dipati Ukur tahun 1958. Pada masa itu, tampak lingkungan Dipati Ukur masih berupa lahan kosong tanpa kehadiran satu bangunan pun. Dalam satu ruangan pameran, mayoritas adalah berupa foto-foto Bung Karno dengan segala aktivitasnya. Namun, tidak hanya berupa paparan gambar dengan objek Bung Karno tetapi di satu sisi kanan ruangan dipajang pula buku-buku hasil buah pemikiran Bung Karno yang masih asli cetakannya. Diantara buku-buku tersebut terdapat buku Indonesia Menggugat, Di Bawah Bendera Revolusi, dan buku-buku lainnya.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya, yaitu foto istri kedua Bung Karno, yaitu Inggit Garnasih. Foto tersebut disertai dengan pernyataan pengakuan dari pengalaman Inggit saat masih bersama Bung Karno yang tercantum dalam buku “Ku Antar Ke Gerbang” halaman 2. Berikut kutipannya :

“Ini tentang pengalamanku dengannya, dengan seseorang yang mementingkan segi membangkitkan semangat dan solidaritas bangsa untuk mencapai apa yang dicita-citakannya, apa yang sebenarnya kita cita-citakan bersama, yakni kemerdekaan bagi bangsa kita. Di balik itu, ia pun adalah seorang yang sangat penuh romantika. Aku mengikutinya, melayaninya, mengemongnya, berusaha keras menyenangkannya, meluluhkan keinginan-keinginannya.

Namun, pada suatu saat, setelah aku mengantarkannya sampai di gerbang apa yang menjadi cita-citanya, berpisahlah kami, karena aku berpegang pada sesuatu yang berbenturan pada keinginannya. Ia pun melanjutkan perjuangannya seperti yang tetap aku doakan. Aku tidak pernah berhenti mendoakannya.”

Sungguh pernyataan Inggit Garnasih membuat saya terharu. Betapa tidak? Perjuangan dan semangat yang dimiliki Bung Karno ternyata hasil motivasi dari Inggit Garnasih. Namun, sangat disayangkan, mereka harus berpisah di tengah keberlangsungan perjuangan Bung Karno. Karena dorongan dan ayoman Inggit Garnasih-lah, Bung Karno mampu merintis dan mengembangkan karir politiknya.

Oh ya, selain itu, pengetahuan yang baru saya dapat dari pameran foto ini dan cukup membuat saya merasa ciut karena miskin wawasan adalah ternyata Gedung Graha Sanusi Hardjadinata yang notabene adalah gedung milik Universitas Padjadjaran di kampus Dipati Ukur, diambil dari nama Gubernur Jawa Barat masa itu, yaitu Sanusi Hardjadinata. Beliau merupakan rekan Bung Karno.

Gambar

Informasi lengkap mengenai kegiatan Museum Asia Africa bisa didapatkan melalui account twitter : @asiafricamuseum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s