Kota Bandung dan Magnetnya

 

Bandung adalah ibu kota dari Provinsi Jawa Barat. Ia memiliki magnet yang kuat tidak hanya bagi warga kota Jakarta, tetapi di kota-kota lainnya. Semisal, ketika saya masih berada di salah satu kota di Jawa Tengah baik Kebumen maupun Pati, kawan-kawan dan keluarga saya selalu menganggap Bandung istimewa. Baik dari segi anak mudanya yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng, pariwisatanya, suasana kotanya yang sejuk, universitasnya yang bergengsi, hingga kulinernya yang menggugah selera. Itulah Bandung bagi anggapan orang-orang di luar kota ini yang selalu dijuluki dengan nama Kota Kembang. Benarkah nama tersebut masih relevan dengan Bandung saat ini?

Bagi saya Bandung selalu menarik. Mungkin ini karena latar belakang keluarga saya yang banyak menjadi penduduk Bandung. Sehingga, semasa saya masih kanak-kanak, saya sering mengunjungi Bandung. Biasanya karena ikut papa dinas. Bandung waktu saya kecil, sangat sejuk, dengan pohon-pohon rindang berjejer di sepanjang jalan manapun. Mata memandang Bandung sangat indah tanpa kehadiran kemacetan dan sampah di mana-mana. Industri kreatifnya terus berkembang. Ini yang menjadi ciri khas Bandung. Dengan bangunan-bangunan sejarah peninggalan Belanda. Sampai akhirnya dulu saya memutuskan ingin sekolah di Bandung dan memang terwujud saya kuliah di Unpad.

Pernyataan di atas bukan sekedar pendapat pribadi saya saja. Ini juga menjadi pengakuan saudara-saudara saya yang semenjak dari lahir menetap di Bandung bahwa dulu Bandung sejuk dengan cuacanya setiap pagi diselimuti kabut. Akan tetapi, apa yang terjadi Bandung saat ini? Kota yang sejuk kini dipadati oleh polusi dari padatnya kendaraan bermotor, sampah yang memenuhi jalan-jalan protokol, jalan utama yang bolong-bolong dan rusak, banjir datang ketika hujan turun meski hanya rintik-rintik, bangunan tua yang sudah beralih fungsi menjadi tempat konsumtif, kawasan hutan Babakan Siliwangi yang akan dijadikan restoran namun dapat digagalkan oleh para aktivis dan budayawan, tumbuhnya anak jalanan, wilayah serapan akan digeser menjadi hotel, dan segala permasalahan lainnya.

Apa yang menjadi penyebab munculnya permasalahan ini? Bagi saya, salah satu penyebabnya adalah karena para penguasa kota Bandung (pemerintah, investor, dll) kurang memerhatikan lingkungan sekitarnya. Mereka cenderung tidak bekerja untuk rakyat. Sungguh bagi saya ini tidak pro rakyat. Saya pun kurang melihat kesigapan pemerintah dalam menangani berbagai permasalahan yang ada. Sebenarnya, penyelesaiannya tidak langsung tiba-tiba selesai. Tentu saja dibutuhkan proses dan sikap kooperatif antar berbagai pihak. Begitupun juga dengan masyarakat. Harus taat dan disiplin. Seperti, jangan membuang sampah sembarang tempat, jangan asal serobot di jalan raya, dan kembali menerapkan gotong royong di tempat tinggalnya masing-masing.

Hal yang cukup melelahkan bagi saya adalah kemacetan di mana-mana. Rasanya Bandung sudah menjadi Jakarta kualitas 2. Bandung sudah ditumpuki oleh kendaraan-kendaraan bermotor yang tidak habis-habis. Selalu saja ada keluhan di media sosial macet di semua jalan. Tidak hanya membaca dari dunia maya, tetapi jika kita melihat langsung ke jalan, rasanya jalanan di Bandung sepi hanya waktu tengah malam hingga subuh. Apalagi saat hari libur baik Sabtu maupun Minggu. Volumen kendaraan bermotor meningkat. Karena banyak masyarakat Kota Jakarta yang berbondong-bondong menikmati Bandung. Tidak heran juga kawasan Gasibu menjadi ramai dipadari masyarakat Bandung karena adanya pasar tumpah hingga ke jalan raya dan menutupi kendaraan yang lewat. Sungguh ‘ruwet’ menurut pendapat saya. Seperti tidak ada solusi penanganan. Tentu ada sisi positif dan sisi negatif. Masyarakat dapat dengan mudah memperoleh kebutuhan-kebutuhan mereka tapi jalan menjadi macet dan tersendat. Jalan tertutup orang-orang berjualan.

Bandung pernah menjadi sorotan masyarakat Indonesia karena slogan Bandung Lautan Api beralih menjadi Bandung Lautan Sampah. Karena, sampah-sampah menggunung di jalan dan menyebabkan bau yang tidak sedap bagi warga sekitar. Bandung kini dipenuhi sampah. Menurut saya, ini karena masyarakat kurang disiplin untuk membuang sampah. Kalau tidak buang ke sungai, mereka membuang ke pinggir jalan. Tanpa memikirkan dampak yang terjadi dengan kehadiran sampah-sampah ini. Dampak inipun sudah dirasakan seperti mudah datang banjir kala hujan turun. Padahal hujan turun hanya sebentar. Gorong-gorong sudah dipenuhi plastik. Di depan rumah warga juga sudah tidak banyak selokan yang dalam untuk menampung debit air.

Cukup banyak masalah yang ada di kota Bandung. Warga juga mengeluh dengan jalan-jalan yang bolong. Seperti di jalan Kiara Condong. Jalan sangat rusak, menghambat perjalanan orang-orang, kita jadi banyak ngomel dan mengeluh. Bagaimana dengan pemerintah? Apakah sudah ada upaya penyelesaiannya? Untuk jalan Kiara Condong, jalan sedang diperbaiki. Semoga bisa estafet ke jalan yang lainnya.

Dalam hal pariwisata, Bandung memang terkenal dengan pariwisatanya yang cukup lengkap. Bandung itu syahdu. Bandung itu candu. Begitu menurut saya dan orang-orang yang mencintai Kota Bandung. Suasananya yang sejuk. Pemandangan yang alami. Wisata kuliner yang lengkap. Bangunan-bangunan bersejarah yang semakin tua dan dimakan usia. Wisata berbelanja yang istimewa. Di mana lagi kota di Indonesia yang memiliki kawasan factory outlet selain di Bandung?  Jalan Riau, Jalan Setiabudi, serta Jalan Cihampelas adalah kawasan yang penuh dengan factory outlet untuk memanjakan wisatawan lokal yang senang berbelanja. Beda hanya dengan wisatawan mancanegara yang lebih suka dengan wisata alam seperti Tangkuban Perahu atau Ciwidey serta wisata sejarah dengan menikmati jalan-jalan di Kota Bandung yang penuh dengan bangunan Belanda. Mereka yang cenderung bersatu dengan lingkungan sekitar mereka.

Berbicara tentang pariwisata, tentu Bandung tidak kalah menarik. Memiliki Saung Angklung Udjo yang memenuhi rasa penasaran wisatawan tentang angklung, tari-tarian sunda, dan lagu-lagu daerah. Semua tersaji di sini. Tentu juga dengan souvenir yang dapat menjadi buah tangan bagi sanak kolega.

Selain itu, kesenian di Bandung atau kesenian Jawa Barat juga dikagumi wisatawan mancanegara. Tidak jarang diantara mereka ada  yang belajar suling, angklung, calung, kecapi, bahasa Sunda, hingga aksara kuna Sunda. Bagi mereka ini sungguh unik. Dan ini dapat menjadi langkah kita, masyarakat Bandung untuk terus berkembang melestarikan local wisdom dan nilai-nilai tradisi turun temurun. Namun, juga harus dibarengi dengan wawasan kedaerahan, kemampuan menguasai kebudayaan Sunda, seperti tari-tarian, lagu-lagu daerah bahasa dan watak asli Sunda. Diantaranya sifat tersebut adalah cageur, bageur, pinter, bener, dan singer. Semua sifat tersebut harus dimiliki oleh orang Sunda yang Nyunda dan orang-orang yang tertarik pada budaya Sunda. Sehingga, tidak luntur dimakan zaman dan kebudayaan asing yang terus masuk.

Namun, menurut saya budaya Sunda semakin kian terkikis dan tidak diminati oleh generasi muda. Idealisme mereka berubah lebih ke-barat-baratan. Tidak banyak yang tertarik untuk memahami budayanya sendiri. Tidaklah salah untuk suka pada budaya asing, tetapi jangan lupa untuk terus belajar budaya daerah. Sehingga, apa yang sudah menjadi warisan nenek moyang tidak luntur begitu saja. Kita harus terus memperkaya khasanah daerah kita. Untuk saya sendiri, saya masih kurang mempelajari kebudayaan daerah Sunda. Akan tetapi, banyak cara yang bisa dilakukan untuk kembali belajar dengan disiplin. Seperti, banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan kebudayaan Sunda, banyak berdiskusi atau mengikuti dialog terbuka dengan budayawan maupun sastrawan, mengunjungi kawasan budaya dan kesenian, mengunjungi lokasi-lokasi bersejarah (museum, gedung-gedung tua), mengikuti pelatihan tari atau latihan sendiri di rumah, belajar berbahasa Sunda, dan cara-cara lainnya. Karena, pada dasarnya kita harus terus belajar agar tertanam dalam diri kita nilai-nilai luhur moyang yang sudah dilahirkan dan diteruskan kepada kita. Hingga kita dapat menghayatinya dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tanpa kita, siapa lagi yang akan melestarikan budaya daerah kita sendiri. Dan membawa budaya kita menjadi menarik bagi orang lain hingga bisa berjalan beriringan dengan kebudayaan asing. Semoga kita dapat bersama-sama dan saling melengkapi kekurangan yang kita miliki dan mengedepankan sifat someah yang menjadi ciri khas warga Kota Bandung.

 

 Adisa Soedarso

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s