MENGENANG PAK TOHA (PENJUAL KORAN DAN TALI SEPATU DI JATINANGOR)

Tulisan di bawah ini sempat diikutsertakan dalam sebuah proyek penulisan. Tapi karena satu dan lain hal, proyek tersebut belum selesai. Mungkin, bagi teman-teman  yang ingin membaca, dapat dilihat pada artikel di bawah ini🙂

 

Sepenggal Kisah Dari Jatinangor

Oleh : Adisa Ittaqa Putri

“Semua manusia bersaudara satu sama lain. Karena itu tiap orang yang membutuhkan pertolongan harus memperoleh pertolongan. Tiap orang keluar dari satu turunan , karena itu satu sama lain adalah saudara”

-Pramoedya Ananta Toer-

            Jam dinding di kamarku berdentang tujuh kali. Aku kaget bukan kepalang. Baru saja aku bangun dari tidur lelapku. Semestinya jam tujuh pagi, aku sudah harus bersiap menuju Jatinangor. Bukan, bukan untuk urusan kuliah, tapi ada janji dengan teman-temanku. Sebenarnya tidak perlu terburu-buru juga untuk ke Jatinangor, tetapi karena tuntutan mahasiswa akhir untuk menciptakan karya agung berupa skripsi, akhirnya saya menjadwalkan juga untuk mengunjungi PUSDATIN (Pusat Data dan Informasi) sekedar mencari inspirasi.

            Seperti biasa, setelah siap berkemas dan berpakaian rapi, mama langsung bergegas menyiapkan motor untuk mengantarkan aku berangkat ke kampus sampai ke depan gang kompleks dan menungguku sampai mendapatkan kendaraan umum. Tidak butuh waktu satu jam untuk sampai di Jatinangor. Sesuai dengan rencana awal, aku hendak bertemu dengan temanku. Saat hendak mengejar angkutan umum kampus, saya melewati ATM Center dan teringat akan biaya pembelian buku online yang harus saya bayar. Tanpa berpikir panjang, saya langkahkan kaki menuju ATM Center untuk mentransfer biaya pembelian buku.

            Saat itu langit Jatinangor sedang muram. Sudah bisa aku tebak, sebentar lagi langit akan menurunkan air matanya. Benar saja tebakanku, tak lama setelah aku selesai mentransfer biaya pembelian buku di ATM, hujan mengguyur Jatinangor. Dipastikan aku terjebak di dalam ATM Center dan tidak dapat langsung menemui temanku yang pada saat itu berada di kampus. Meskipun aku membawa payung, derasnya air hujan akan tetap membasahi bajuku. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menunggu hujan reda. Sembari menunggu hujan sedikit reda, aku melihat seorang Bapak tua yang sedang menawarkan tali sepatu di depan pintu masuk ATM Center. Wajahnya sudah sangat familiar.

            Aku mengenal bapak tua itu sebagai penjual koran dan tali sepatu di kampusku. Aku menaksir usia bapak tersebut sekitar 70-an. Setiap pagi aku selalu bertemu dengan beliau. Ia menawarkan tali sepatu kepada mahasiswa yang lewat di depannya. Sesekali ia menyambangi mahasiswa yang sedang duduk dan berdiskusi. Aku lihat bapak tersebut pantang menyerah. Tidak jarang mahasiswa menolak penawarannya. Aku sangat penasaran sekali dengan bapak tersebut. Awalnya sempat ragu untuk menghampiri, tetapi bagaimana bisa tau dan mengenal bapak tersebut kalau tidak berani untuk berbincang dengannya. Aku putuskan untuk mendekati beliau dan membuka pembicaraan dengan Bapak tersebut.

            “Bapak kok engga pake sendal? Hujan Pak, kotor”, ucap saya seraya membuka

pembicaraan.

            “Iyah neng, itu saya simpan di situ sendalnya”, seraya menunjukkan sendalnya.

            “Oh, bapak sendirian? Jual apa bapak?”

            “Iyah sendirian neng, ini jual tali sepatu.”

            “Bapak, asli dari mana?”

            “Bapak dari Garut neng.”

            “Nama Bapak siapa?”

            “ Pak Toha, neng. Neng, namanya siapa?”

“Saya Adisa Pak. Saya sering lihat bapak di kampus saya, biasanya dagang koran yah Pak?”

“Iyah neng, saya dagang koran  kalau di kampus sedang tidak libur. Ini karena libur, jadi saya jualan tali sepatu.”

Selama hampir satu jam, aku berbincang banyak dengan Pak Toha. Betapa hatiku meleleh saat mendengar ceritanya dan kisahnya memberikan inspirasi kepadaku untuk tidak mengenal kata menyerah sekalipun kita berada pada titik terbawah. Pasti akan ada Tuhan yang selalu ada buat memberikan pertolongan kepada kita melalui perantara tangan orang lain.

Bapak Toha ini perantau dari Garut. Ia datang ke Bandung karena tuntutan ekonomi yang semakin mendesak. Sebagai kepala keluarga ia menanggung 12 orang yang harus dibiayainya. Pertama kali ia datang ke Bandung, tak serta merta ia bekerja di Jatinangor. Ia bekerja di Bandung, kemudian atas saran seorang temannya, dia lantas mendaftarkan diri untuk menjadi karyawan di institusi pendidikan di Jatinangor. Akan tetapi, lamaran beliau tidak diterima pihak lembaga karena alasan usia beliau yang sudah tidak produktif.

Kegagalan pendidikan itu tak lantas membuat Pak Toha patah arang. Karena tekadnya yang bulat untuk membahagiakan keluarga, kemudian ia mengabdi menjadi pengurus di sebuah masjid Unit Kegiatan Mahasiswa. Setiap hari ia menyapu dan mengepel masjid tersebut. Tidak ada upah sepeserpun yang ia dapat dari pekerjaannya. Namun, yang ia pikirkan bukan upah, tetapi berkah dan ridhlo Allah SWT. Tak jarang beberapa mahasiswa memberikan sedikit uluran bantuan untuk biaya hidup sehari-hari Pak Toha.

Dalam usianya yang sudah lanjut, ia tak mengenal lelah. Ia berusaha mendapatkan uang menjual tali sepatu yang ia beli di Pasar Baru. Kadang ia mengutang terlebih dahulu, itupun karena asas kepercayaan. Untung yang ia dapat dari menjual sepasang tali sepatu ialah Rp 1.000,00 dengan harga jual Rp 5.000,00. Masya Allah, saya kaget mendengarnya. Hanya sedikit untung yang beliau ambil untuk dikumpulkan. Pak Toha mengumpulkan uang untuk membeli beras sebanyak 20 kg yang beliau hadiahkan kepada keluarganya di Garut.

Pak Toha pulang ke Garut setiap 2 minggu sekali, atau tergantung pada banyaknya keuntungan yang ia dapat. Keuntungan itu ia manfaatkan untuk membeli beras dan ongkos pulang ke Garut. Sungguh, tak terpikirkan sama sekali olehku. Di usianya yang sudah tidak produktif lagi ia harus berjibaku mencari nafkah untuk 12 anggota keluarganya yang beliau cintai.

Mendengar penjelasan panjang dari beliau, saya jadi ikut larut dalam alur ceritanya. Betapa Pak Toha memiliki semangat perjuangan hidup yang luar biasa hebat. Ia senantiasa bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepadanya. Ia sangat ikhlas menjalani hidup, meski tak memiliki uang. Ia tidak akan menerima uang yang bukan haknya dan tidak akan menerima uang begitu saja dari orang lain tanpa ada alasan yang logis.

Bagi mahasiswa di sekitar wilayah masjid UKM, berbincang dengan Pak Toha dapat menghapus kepenatan mereka menghadapi dunia perkuliahan. Banyak pengalaman beliau yang bisa kita dapatkan bilamana berbincang dengan Pak Toha. Di tengah hiruk pikuk mahasiswa yang membawa suasana kemewahan, Pak Toha adalah sosok inspirasi kesederhanaan bagi kita. Kita selalu merasa rendah diri, pesimis, tidak bersyukur, mengeluh setiap ada tugas dan kendala-kendala kecil, padahal di luar sana masih ada orang-orang yang berkekurangan.

Pak Toha sehari-hari tinggal di masjid UKM. Tidur beralaskan karpet tipis, tanpa bantal dan selimut. Tentu saja hal ini dilakukan tanpa adanya keluhan yang terlontar. Prinsip yang ia pegang adalah pantang meminta-minta. Selama ia masih diberikan kesehatan dan kekuatan, beliau akan terus berusaha bekerja demi mendapatkan uang. Ia mengalami pahit manis dalam menjalani hidup merantau di Jatinangor tanpa satupun keluarganya. Pernah satu waktu ia harus berpuasa selama 3 hari karena dagangannya tak laku-laku dan ia tak memiliki uang untuk membeli makanan. Namun, ia tidak mengeluh sama sekali.

Aku sangat terenyuh sekali mendengar cerita dari Pak Toha. Dengan keterbatasan ia masih optimis berupaya menafkahi keluarganya tanpa meminta-minta. Ia dapatkan hasil jerih payahnya dengan berusaha menjajakan koran dan menjual tali sepatu berwarna-warni. Ia jalani dengan ikhlas dengan penuh senyum yang tampak tersungging di wajahnya. Pak Toha merasa bahwa ia adalah orang yang beruntung karena masih dapat makan dan membahagiakan keluarga.

“Alhamdulilah neng, Bapak mah masih bisa beli beras buat keluarga. Banyak orang yang gak bisa makan, gak bisa bahagian keluarga”, ucap Pak Toha dengan matanya yang berbinar.

Cerita Pak Toha memberikan teguran dan mengingatkan kita, mahasiswa, janganlah terlalu banyak mengeluh atas beban yang datang ke pundak kita. Kisah Pak Toha menjadi cerminan bagi kita yang masih diberikan keberuntungan untuk mengenyam pendidikan  ke jenjang yang tinggi dan tanpa beban memikirkan biaya hidup sehari-hari. Bahwasannya masih banyak jalan dan cara kita untuk menyelesaikan berbagai masalah. Lihatlah orang-orang di sekeliling kita yang serba berkekurangan dalam memenuhi kebutuhan mereka. Banyak pengorbanan yang harus mereka lakukan, sedangkan kita? Tugas kita hanyalah belajar dengan baik tanpa banyak mengeluh sulit.

Janganlah mudah menyerah. Jadikan kisah Pak Toha pelajaran berharga yang kelak menjadi cambuk bagi kita untuk mengatakan say no to give up. Mulailah meminimalisir dan mengeliminasi kata menyerah dalam hidup. Selalu ada jalan untuk kita yang selalu berbuat baik dan bermanfat bagi orang lain. There’s a will, there’s a way.

Kini, sepenggal kisah dari Jatinangor dapat dijadikan pondasi bagi kita. Kewajiban sebagai mahasiswa yang memiliki stigma agent of change harus menyuntikkan semangat pantang menyerah untuk dapat membantu dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Berilah ruang pada diri kita untuk memperhatikan orang-orang sekitar yang secara tersirat dapat memberikan inspirasi pantang menyerah serta rasa bersyukur yang mendalam dan teramat luas. Dengan begitu pertolongan akan kesulitan kita datang dengan berbagai cara.

Kisah Pak Toha dapat merefleksikan bahwa kita wajib mencintai dan menjiwai kata don’t give up. Semangat dalam hidup harus senantiasa dikibarkan. Sosoknya pantas dijadikan panutan bagi kita. Betapa ia tak mengenal pantang menyerah. Betapa ia adalah sosok mulia yang memberikan semangat optimisme bagi kita untuk selalu bersyukur.

“Never give up, for that is just the place and time that the tide will turn” Harriet Stowe

 

Dan, pada hari Jumat, 2 Agustus 2013, saya mendapatkan kabar bahwa Pak Toha sudah kembali pada Yang Maha Kuasa.  Informasi ini sangat ramai di twitter. Sungguh, ini berita yang melukai hati saya. Karena, saya sempat berjanji pada diri sendiri untuk bertemu lagi dengan Pak Toha dalam suasana yang santai tanpa tergesa-gesa karena beliau harus bekerja. Seorang Bapak yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya. Ia berpulang dalam waktu yang sangat mulia. Hari Jumat dan di waktu Ramadhan 1434 H. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah Swt dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan beserta ketabahan. Pak Toha adalah pahlawan keluarga yang sangat rendah hati. Beliau pantang mengemis dan lebih baik bekerja dengan halal untuk membiayai keluarganya. I love you Pak Toha. Tenang di surga ya Pak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s