Peresmian Museum Digital Aksara Nusantara

27 September 2013 dipilih oleh Teh Shinta Ridwan dan kawan-kawan dari Komunitas Aksakun untuk menggelar hajatan besar, peresmian Museum Digital Aksana Nusantara, bertempat di Bale Rumawat, Universitas Padjadjaran. Acara ini dibuka untuk umum, jadi semua lapisan masyarakat dapat dapat tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Awalnya saya mengetahui proyek ini karena melihat informasi yang ditampilkan oleh Teh Shinta Ridwan di dinding Facebooknya. Selain itu, beberapa hari sebelum pelaksanaan acara, Teh Shinta mengirimkan sebuah pesan melalui telepon selular yang berisikan undangan untuk menghadiri acara tersebut. Saya sangat tertarik dengan acara ini. Apalagi acara ini mengangkat tema keaderahan, yaitu aksara yang dimiliki oleh nusantara.

Sebelumnya, saya sempat mengikuti kelas Aksara Kuna oleh Teh Shinta Ridwan di Museum Asia Afrika tahun 2012. Kegiatan tersebut berlangsung satu minggu sekali dengan durasi belajar sekitar 3 jam. Nama kelasnya Sampurasun. Tidak hanya mempelajari aksara tetapi juga budaya Sunda, diantaranya suling, kecapi, ikat, dan lain sebagainya. Tetapi, porsi lebih besar diberikan pada belajar aksara kuna.

Diantara kita pasti sudah banyak mengenal Teh Shinta Ridwan. Namanya cukup menghiasi surat kabar dan dunia sastra. Teh Shinta sering mengisi kolom-kolom surat kabar dengan kekayaan cerita yang beliau tuangkan. Selain itu, Teh Shinta juga merupakan seorang penulis buku. Beberapa buku sudah dia terbitkan. Salah satunya berjudul “Berteman dengan Kematian”. Sayang, sampai saat ini saya kesulitan mencari buku ini karena sudah habis di toko buku.

Kembali ke acara peluncuran acara Museum Digital Aksara Nusantara, Teh Shinta adalah motor penggerak dari proyek besar ini. Dia mengajak beberapa rekannya untuk mewujudkan sebuah karya nyata yang kelak akan sangat bermanfaat bagi banyak pihak. Beliau mengundang banyak orang yang ternyata memberikan berbagai inspirasi dan turut mendukung langkahnya. Beberapa diantaranya adalah dosen dan penggiat budaya. Jadi, memang acara ini dapat dikatakan acara kebudayaan.

Museum Digital Aksara Nusantara berisi intentaris aksara-aksara yang tersebar di seluruh nusantara. Umumnya, diantara kita tidak banyak mengetahui bahwa di seluruh pelosok daerah di nusantara, memiliki aksara kuna. Tidak hanya itu, banyak sekali naskah-naskah kuna yang luput dari perhatian kita. Dengan hadirnya museum digital ini, diharapkan mendorong masyarakat untuk mengetahui, mempelajari dan lebih jauh memaknai serta mengimplementasi nilai-nilai yang ada dalam setiap naskah, atau prasasti yang tersaji rapi di museum tersebut.

Mengapa dinamakan museum digital? Teh Shinta memang kaya akan kreatifitasnya. Fenomena 2.0 dimanfaatkan dengan baik olehnya. Naskah-naskah atau artefak yang ia temukan dan pelajari di berbagai tempat baik museum ataupun lokasi aslinya, ia potret dan menulis kembali isi naskah tersebut. Kemudian, dia dan timnya membuat desain sedemikian rupa agar tampilannya menarik. Media yang dia gunakan adalah website. Kearifan lokal yang dipadukan dengan teknologi. Jadi, kita memiliki museum virtual. Siapapun dan berada di manapun dapat dengan mudah berwisata ke museum aksara nusantara tanpa mengeluarkan beban tenaga dan biaya.

Pada saat  di meja registrasi registrasi, ada 3 bagian buku tamu. Pertama, untuk murid aksara kuna, kedua untuk wartawan dan terakhir untuk umum. Masing-masing bagian ada hadiahnya. Murid aksara kuna diberikan kesempatan untuk memilih 3 judul buku dan saya memilih Aksara Sunda. Wartawan diberikan press release dan umum diberikan stiker. Setelah itu kita dimanjakan dengan sajian kuliner khas Sunda, bajigur dan bandrek. Adapula ubi, pisang, dan kue basah. Semua diberikan kepada tamu secara cuma-cuma. Siapa yang tidak tergiur. Sayapun menikmati sajian tersebut.

Tepat pukul 19.30 acara dimulai. Dibuka dengan Tari Topeng dan ternyata penarinya adalah rekan saya saat di kelas Aksakun. Dua pria yang dengan lemah gemulai menarikan tarian khas Cirebon. Selanjutnya, penayangan mengenai kelas-kelas Aksara Kuna Teh Shinta serta review  website Museum Digital Aksara Nusantara.

Sesi selanjutnya adalah talk show  bersama beberapa tokoh di bidang yang berbeda, yaitu Bapak Hawe Setiawan (budayawan dan dosen Unpad), Bapak Setiawan Sabana ( Guru Besar FSRD ITB), Teh Shinta Ridwan, serta King Kimung (dosen Unpad). Bertindak sebagai moderator adalah Bapak Tobing. Acara berlangsung kurang lebih 2 jam. Setelah sesi pemaparan, dibuka sesi tanya jawab. Tamu yang hadir sangat antusias. Hal ini dibuktikan banyaknya tamu yang mengacungkan tangan untuk bertanya.

Sayang sekali saya tidak menghadiri acara hingga selesai. Karena, jam sudah menunjukkan pukul 21.00 dan saya harus segera pulang. Banyak pelajaran yang saya dapat dari acara ini. Bahwa, meskipun materi yang telah Teh Shinta kuasai dan pelajari selama bertahun-tahun dan tidak banyak peminatnya, masih memiliki titik terang untuk bisa diminati oleh berbagai pihak. Tentu saja perlu upaya maksimal untuk membuat masyarakat tahu dan suka akan hal-hal yang dianggap ‘primitif’. Namun, dengan kerja keras Teh Shinta serta kawan-kawan Aksara Kuna, semua yang dianggap kuno, bisa dimodifikasi sedemikian rupa agar masyarakat dapat mempelajari prasasti-prasasti milik kita, nusantara. Dengan begitu, kecintaan kita pada semakin kearifan lokal semakin mengakar untuk diimplementasikan dalam kehidupan berbudaya. 

Gambar

Teh Shinta Ridwan, sang pelopor Museum Digital Aksara Nusantara

Gambar

Talk show bersama para ahli budaya dan seni.

Gambar

Penampilan Tari Topeng (1)

Gambar

Penampilan Tari Topeng (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s