Babarengan Bersih-Bersih Kota Bandung

Siapa yang tidak mengenal Bandung dengan julukan Kota Kembang-nya? Tentu semua sudah sering mendengar istilah tersebut. Tapi, apakah masih relevan dengan kondisi Bandung saat ini? Berdasarkan pandangan mata saya, keadaan Bandung sangat jauh dari kesan bersih dan nyaman. Sampah menumpuk di jalan protokol, di gang-gang sempit, sedikitnya saluran pembuangan air/ selokan, macet di mana-mana, banjir saat hujan, dan masalah-masalah lingkungan lainnya. Sangat ironis melihat keadaan seperti ini. Jauh dari julukan yang sudah bertahun-tahun ada di pundak Kota Bandung dan masyarakat di luar Kota Bandung mengenal akrab identitas tersebut.

Pengetahuan dasar mengenai masalah lingkungan tentu sudah diberikan semasa duduk di bangku sekolah. Lalu, mengapa masih terjadi saja persoalan-persoalan lingkungan yang sampai saat ini masih menjadi momok ? Menurut pendapat saya, masyarakat masih kurang memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan. Beberapa kesempatan saat saya jalan-jalan ke Car Free Day di Dago, para pengunjung tidak menjaga lingkungan dengan baik. Sebagai contoh, di sekitar jalan Dago sudah disediakan tempat sampah dengan dua kategori, organik dan anorganik.

Pemisahan sampah ini tentu bukan tanpa tujuan. Merujuk pada artinya bahwa sampah organik adalah sampah yang bisa mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau (sering disebut dengan kompos)1.  Dengan kata lain dapat digunakan kembali untuk dibuat  pupuk kompos. Sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang sulit untuk mengalami pelapukan dan tidak bisa dijadikan pupuk kompos. Jadi, dengan dipisahkannya sampah-sampah tersebut bertujuan agar sampah organik bisa digunakan kembali dan sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang ekonomis dan tidak merusak lingkungan karena bahan kimia yang terkandung di dalamnya.

Belakangan ini, Bandung sudah aktif mengampanyekan program Diet Kantong Plastik dan pemilahan sampah kepada masyarakat Kota Bandung.  Lokasinya di Car Free Day, Dago, Bandung. Setiap hari Minggu, berbagai komunitas tumpah ruah di sana. Begitupun dengan komunitas-komunitas yang bergiat di bidang lingkungan. Diantaranya Greeneration Indonesia atau dikenal dengan nama GI. Bisa dikatakan Gi adalah lembaga swadaya masyarakat/ organisasi yang berkecimpung di bidang lingkungan.

GI sangat aktif menggerakkan masyarakat Kota Bandung untuk menjaga lingkungan dengan mengurangi penggunaan kantong plastik. Tidak sampai hanya menghimbau saja, Gi juga memberikan solusi dengan menyediakan reusable bag kantong yang dapat digunakan berkali-kali. Informasi yang disampaikan oleh GI sangat berbasis data dan fakta. Kemudian disampaikan kepada masyarakat dengan cara-cara yang kreatif, diantaranya monster plastik, human banner, dan sebagainya.

Keadaan tersebut mendorong komunitas-komunitas lain untuk bergerak mendorong masyarakat agar menjaga lingkungan. Salah satu program menarik lainnya adalah Zero Waste Event. Komunitas ini menggagas sebuah kegiatan dan aksi pemilahan sampah untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa sangat penting dilakukan pemilahan sampah. Umumnya, kita membuang sampah begitu saja tanpa perlu memikirkan perbedaan sampah yang kita hasilkan. Dengan aksi ini diharapkan masyarakat sadar akan sampah yang mereka hasilkan dan mereka letakkan di tempat yang sesuai dengan jenisnya.

Program ini mulai digalakkan sejak kepemimpinan walikota Bandung yang baru, yaitu Bapak Ridwan Kamil. Zero Waste Event di Bandung ini turut berpartisipasi membangun Kota Bandung yang ingin kembali sejuk dan nyaman. Kegiatan ini aktif di CFD pada tanggal 17dan 24 November serta 1 Desember 2013. Tanggal-tanggal tersebut, Zero Waste Event menurunkan banyak relawan dari berbagai komunitas untuk membantu memberikan edukasi kepada warga Bandung di CFD untuk mulai melakukan pemilahan sampah dan membuangnya di tempat yang sudah disediakan.

Jargon yang dibuat oleh Zero Waste Event adalah TSP (Tahan, Simpan, Pungut). Maksudnya adalah tahan sampah yang kita hasilkan, simpan sampah tersebut di tempatnya, pungut jika kita menemukan sampah di jalan. Bagi saya, apa yang disampaikan oleh kegiatan ini sangat menarik. TSP dapat memberikan suatu arahan bahwa kita bisa membantu menjaga lingkungan dan tentu saja memudahkan petugas kebersihan untuk membersihkan sampah.

Pada tanggal 17 November 2013, saya turut berpartisipasi dalam gerakan ini. Saya bertugas di sekitar wilayah outlet Glow bersama dengan rekan saya, Rika. Kami membantu memungut sampah yang berserakan, mengedukasi masyarakat yang tertarik untuk melihat banner yang Greeneration Indonesia sediakan, meminta untuk mengisi kuesioner yang kami siapkan dan berbincang dengan mahasiswi yang tertarik dengan kegiatan ini.

Kami banyak menemukan warga Bandung di CFD yang masih membuang sampah sembarangan padahal jarak dengan tempat sampah tidak sampai 1 meter. Adapula yang cuek dengan kegiatan kami yang menyuarakan untuk memilah sampah saat dibuang karena menurut mereka nanti saat dibawa petugas kebersihan, sampah tersebut akan digabungkan kembali, jadi percuma saja. Akan tetapi, tidak sedikit yang mengapresiasi. Sekumpulan mahasiswi dari STKS (Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial) yang tiba-tiba menghampiri kami dan terheran-heran dengan aksi kami memungut sampah dan memilahnya.

Mahasiswi tersebut kemudian bercerita banyak mengenai kegiatan bersih-bersih lingkungan di komunitas mereka. Baginya, sangat jarang sekali kegiatan ini dan menemukan orang-orang yang mau untuk menggerakkan program ini. Mereka sangat menyukai human banner yang dipajang di titik berdiri kami dan membaca keseluruhan data yang tersaji. Kamipun sangat menghargai apresiasi dari mereka dan saling bertukar pikiran mengenai kegiatan-kegiatan serupa. Mereka mendukung program Zero Waste Event dan mengharapkan kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan di CFD Dago dan hari Minggu saja. Tetapi, dapat menyebar ke seluruh wilayah di Kota Bandung.

Kegiatan ini berlangsung selama 3 jam. Dimulai pada pukul 07.00 hingga 10.00. Selama itu kami sebagai relawan mengamati perilaku masyarakat yang masih kurang menyadari betapa pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Minimal itu. Lebih lanjut mampu memisahkan sampah organik dan an organik. Karena, dengan adanya kesadaran untuk memilah sampah, sudah membantu membersihkan lingkungan dan mengurangi beban kerja petugas kebersihan yang menurut saya sangat berat.

Setelah selesai kegiatan pada pukul 10.00, panitia dan relawan mengumpulkan kembali tong sampah organik dan an organik untuk diberikan pada petugas kebersihan. Selama kegiatan ini, beberapa sampah botol dan cup minuman diminta oleh banyak pemulung untuk kemudian dikumpulkan. Mereka juga sangat berjasa membantu kami dan petugas kebersihan untuk memilah sampah dan memanfaatkannya kembali.

Acara di minggu kedua, tanggal 24 November 2013 tidak jauh berbeda . Tetapi, ada penambahan relawan dari kawan-kawan Hilo Bandung. Jadi, titik tempat edukasi bertambah menjadi 6 lokasi. Tim saya pun berubah yaitu Ridwan dan satu lagi saya lupa namanya. Mereka rekan-rekan Greeneration Indonesia. Lokasinya tidak berbeda, yaitu di sekitar Glow. Namun, kita agak terganggu dengan adanya acara launching produk motor. Sehingga, saat orang-orang berkumpul, sampah pun menjadi banyak dan tidak sedikit yang membuang sembarangan.

Sampah semakin menggunung. Tim kami mendapatkan 2 tong sampah organik dan 2 tong an organik. Hal ini menunjukkan bahwa sampah semakin banyak dihasilkan oleh masyarakat. Umumnya adalah brosur, cup minuman, botol, plastik dan bungkus sosis. Tapi, ada sedikit peningkatan. Orang-orang sudah membuang sampah sesuai dengan jenisnya. Ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah menyadari akan keberadaan tong sampah yang sesuai dengan jenisnya dan sudah mau berperilaku baik pada lingkungan. Waktu pelaksanaan pada hari Minggu kemarin agak berbeda dengan jadwal yang ditetapkan. Acara edukasi dimulai pukul 7.30 karena harus menunggu relawan lainnya berkumpul dan pemberikan arahan dari panitia yang cukup panjang.

Setelah kegiatan selesai, dilanjutkan dengan proses evaluasi. Evaluasi berjalan cukup seru karena para relawan menyampaikan hal-hal yang menarik. Para pengunjung banyak yang tidak membuang sampah pada tempatnya padahal tempat sudah disediakan, banyak yang tidak memilah sampah di rumah dan keluhan lainnya. Tapi, sejauh ini para relawan sudah memberikan edukasi kepada masyarakat di CFD. Diharapkan agar masyarakat merubah perilaku untuk membuang sampah di tempatnya dan mau memilah sampah baik organik maupun an organik.

Tidak kalah penting, relawan mengumpulkan kuesioner yang sudah diisi oleh masyarakat. Pada tanggal 17 November 2013 terkumpul 56 kuesioner dan tanggal 24 November 2013 melonjak sekitar 137 kuesiner. Nantinya kuesioner ini akan menjadi bahan representasi perilaku masyarakat Bandung di CFD mengenai sampah. Acara diakhiri dengan makan bersama nasi bungkus dan di rumah makan khas sunda.

Semoga apa yang kita lakukan dan berikan, bermanfaat untuk orang banyak. Amin. Terima kasih J

1Wikipedia

 

 Image

Nah ini dia, TSP: Tahan, Simpan, Pungut

 

Image

Mohon maaf, sayanya kucel. Nah seperti inilah penampilan relawan TSP

Image

Masing-masing relawan memegang banner 

Image

Bersama Pak Sariban, pahlawan kebersihan Kota Bandung

Image

Relawan-relawan Zero Waste Event

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s