Indonesia di Awal Tahun 2014

 

            Belum genap menyelesaikan bulan Januari 2014, Indonesia sudah banyak dilanda musibah. Diantaranya, bencana Sinabung, banjir bandang di Manado, banjir di Jakarta, banjir di Subang-Indramayu, banjir di Pati, banjir di Pamanukan, dan bencana alam di daerah lainnya. Ternyata masalah sosial antara daerah yang satu dengan yang lain tidak jauh berbeda. Rata-rata banjir, dan untuk di daerah yang dekat dengan gunung yang masih aktif, menghadapi bencana alam, gunung meletus.

            Mendengar selentingan pernyataan bahwa sampah adalah kesalahan alam. Sungguh mengenaskan mendengar pernyataan tersebut. Berarti selama ini banyak orang menganggap semua masalah sosial yang ada merupakan kesalahan alam. Lalu, apakah banjir juga kesalahan alam? Menurut saya tidak. Alam tidak bisa dijadikan kambing hitam atas masalah sosial yang hadir di masyarakat.

            Banjir di Jakarta selalu menjadi bencana yang datang setiap tahunnya. Bagi saya sangat menyedihkan. Bagaimana tidak? Sewaktu saya SD dan tinggal di Serang, Banten,  hujan terus mengguyur kota hingga mengakibatkan banjir. Meskipun tidak sebesar di Jakarta, air yang masuk ke rumah kurang lebih di bawah mata kaki, tetapi meninggalkan trauma yang cukup dalam untuk saya dan ibu saya, khususnya. Saya dan ibu harus berjibaku membereskan kotoran yang masuk ke dalam rumah. Kembali membersihkan lantai yang penuh dengan lumpur dengan kain lap pel. Ini bukan pekerjaan yang mudah dan tentu saja sangat melelahkan. Apalagi di Jakarta dan daerah lainnya dengan banjir yang mencapai 1 meter dari tanah hingga menutupi rumah.

            Lalu, banyak pihak saling tuding menyalahkan siapa yang harus bertanggung jawab atas semua kejadian ini? Saya bukan orang yang ahli bidang tertentu dan masih sangat awam terhadap isu-isu sosial. Tetapi, pemberitaan media massa mengenai bencana di berbagai daerah di Indonesia membuat hati saya mengkerut sedih. Media televisi misalnya, menayangkan warga yang tinggal di pengungsian dengan wajah yang sendu. Saya dapat membayangkan dan merasakan duka yang mereka alami. Mereka kehilangan rumah yang nyaman, aktivitas yang sehari-hari dilakukan, ketenangan, hingga kehilangan sanak saudara.

            Tinggal di pengungsian tidaklah senyaman tinggal di rumah. Tidur di lantai beralaskan tikar, tidur tidak nyenyak, makan seadanya, kumpul berjejal dengan banyak orang, datangnya wabah penyakit, kedinginan dan ketidaknyamanan lainnya. Belum lagi dengan kurangnya perhatian pemerintah pada nasib mereka. Bantuan-bantuan juga sering sekali datang terlambat. Ini bisa kita saksikan di media massa berdasarkan pengakuan mereka. Justru mereka terbantu dari masyarakat di wilayah lain yang tidak mengalami dampak bencana alam, bisa LSM, bisa masyarakat biasa, bisa organisasi, yayasan, aparat setempat dan lebih jauh bantuan pihak asing.

            Bila kita banyak menyaksikan pemberitaan di televisi, bantuan pemerintah pusat kadang terlambat. Banyak warga yang diwawancarai menyampaikan keluh kesahnya dan meminta perhatian kepada pemerintah pusat, khususnya presiden. Namun tetap saja masih kurang mendapat perhatian. Apalagi kalau bencana ini terjadi di daerah yang terpencil, luput dari liputan media massa. Mungkin bantuan juga tidak banyak diberikan.

            Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang ingin dihadapkan pada bencana. Saya, anda, orang-orang di luar sana, sama. Ingin hidup aman dan tenteram. Tapi, ketika bencana datang, siapa yang bisa mengelak? Alam hidup sebagaimana Tuhan telah menciptakan. Alam hidup berdampingan dengan kita. Memberikan manfaat yang begitu besar hingga tidak bisa kita hitung apa saja yang sudah diberikan oleh alam. Kebutuhan primer hingga tersier semuanya disediakan oleh Tuhan melalui alam untuk kita. Tapi, apa balasan kita terhadap alam? Kita, tentu termasuk saya, berbuat sekehendak hati dan sewenang-wenang. Membuang sampah sembarangan, membangun gedung bertingkat di wilayah resapan air, tidak membuat selokan sebagai saluran pembuangan, menebang pohon tanpa ada upaya reboisasi, mengganti hutan menjadi lahan komersil dan lain sebagainya. Di mana tanggung jawabnya?

            Banjir di Jakarta terus terjadi setiap tahun dan pemerintah sedang melakukan upaya pencegahan dengan berbagai cara. Membuat lahan terbuka hijau, memperbaiki waduk, hingga membuat wilayah resapan. Bila kita melakukan jejak sejarah, wilayah Jakarta dahulunya adalah rawa-rawa. Kemudian di bangun gedung-gedung pencakar langit di wilayah tanah resapan air. Pusat perbelanjaan di Jakarta semakin menjamur, masyarakat membuat rumah di pinggir sungai, ruang terbuka hijau yang sangat terbatas, banyak masyarakat yang tidak disiplin dengan membuang sampah ke selokan dan sungai yang menyebabkan banyak tanah amblas, selokan tertutup sampah, sungai penuh dengan plastik hingga berimbas pada banjir saat musim hujan tiba.

            Itu baru di Jakarta, belum di daerah lainnya. Tentu dengan permasalahan yang juga tidak berbeda. Sampah bertebaran di mana-mana dan menyumbat saluran pembuangan. Padahal, tempat sampah sudah disediakan di berbagai titik tetapi masih saja dibuang sembarangan. Hal ini menunjukkan bahwa masalah justru datang dari kita sendiri yang tidak memiliki persiapan dalam upaya pencegahan. Segala bisa diselesaikan tetapi tentu tidak dalam waktu yang sebentar karena prosesnya juga panjang. Pemerintah, aparat, masyarakat harus saling berkoordinasi dan bekerja sama untuk mewujudkan tujuan yang bermanfaat bagi rakyat.

            Di Sinabung, bencana ini sudah terjadi sejak 6 bulan yang lalu. Ini saya ketahui setelah menyaksikan tayangan di stasiun TV berita nasional yang mewawancarai seorang ibu yang mengungsi di sebuah tempat pengungsian. Ia mengatakan bahwa sudah 6 bulan berada di tempat tersebut dan belum ada uluran tangan dari pemerintah pusat. Betapa menyedihkan saudara kita. Sudah 6 bulan yang lalu tetapi informasi mengenai kejadian ini masih sangat minim. Justru saya mengetahui Sinabung dari rekan-rekan saya di twitter. Di media massa lebih banyak menginformasikan banjir di Jakarta. Ini tidak salah, tetapi akan lebih baik jika bencana yang terjadi di luar Jakarta juga ikut disorot media massa. Jadi, suara-suara rakyat yang sedang mengalami musibah juga dapat didengar meskipun terbatas akan jarak.

            Selain Sinabung, ada pula banjir bandang di Manado. Siapa diantara teman-teman yang menyaksikan betapa dahsyatnya bencana di Manado? Bila kita saksikan, air sudah menutupi rumah sampai tinggal atap saja yang tampak. Bahkan kantor walikota Manado juga kebanjiran. Air sungai meluap. Semua kendaraan sudah tidak dapat digunakan. Bagi saya, alam itu hidup. Alam bisa sangat marah karena perilaku kita yang tidak menghargai mereka. Hidup berdampingan dan mengandalkan alam tetapi kita menebang pohon sembarangan, mengubah hutan belantara menjadi perkebunan sawit hingga menggusur penduduk lokal dan perilaku destruktif lainnya.

Berdasarkan informasi akun @Sinabung_V tercatat 8.967 kepala keluarga dengan jumlah 28. 536 jiwa, diantaranya terdapat ibu hamil (203), lansia (1.573) dan bayi (869). Ini baru di Sinabung belum di Manado, Jakarta, Indramayu, Pati dan Pamanukan. Kita lihat Jakarta (yang paling banyak disorot media), betapa banjir bisa menyebabkan kemacetan. Di hari biasa tanpa banjir saja, macet sudah menjadi sarapan warga sehari-hari, apalagi dengan musibah banjir, kendaraan bisa berhenti berjam-jam di jalan. Belum timbul masalah lain seperti kurangnya air bersih, munculnya berbagai penyakit, anak-anak tidak bisa sekolah, orang-orang tidak bisa bekerja, terputusnya saluran komunikasi dan listrik, dan terganggunya infrastruktur.

Belum di daerah lain yang warganya mengandalkan hasil pertanian. Dengan adanya banjir yang menggenangi lahan, mereka jadi gagal panen dan mengalami kerugian yang tidak sedikit. Lalu, dari mana mereka menggantungkan hidup saat banjir datang? Tentu saja perlu perhatian pemerintah. Dengan siapa lagi warga mengadu kalau bukan kepada pemerintah? Dikatakan berat, saya akui berat. Korban bencana alam membutuhkan bantuan dari makanan, obat-obatan, selimut, sampai dukungan mental dan spiritual. Pemulihan dari bencana tidak dilakukan dalam waktu yang singkat tetapi butuh konsistensi dalam kurun waktu yang lama. Banyak korban yang kehilangan mata pencaharian, anak-anak yang putus sekolah, belum lagi dengan masalah yang muncul setelah bencana selesai dan pengungsi kembali ke rumahnya masing-masing. Tidak henti-henti dan akan terus ada.

Belakangan ini, twitter ramai dengan pemberitaan mengenai ibu negara yang terlalu serius menanggapi sebuah komentar follower-nya di akun Instagram. Diantara kalian pasti sudah tahu. Saya sempat menyesali mengapa seorang ibu negara begitu sensitif terhadap komentar orang-orang. Mengapa beliau tidak menyadari bahwa ia adalah seorang ibu negara yang tentu saja menghadapi banyak sorotan. Mengapa tidak dihadapi dengan bijaksana. Padahal, warga Indonesia menggantungkan harapan kepada beliau, kepada presiden, kepada pemerintah pusat yang memiliki kewenangan besar. Sangat disayangkan seorang ibu negara seharusnya mendatangi tempat pengungsian untuk melihat kondisi pengungsi yang harus meninggalkan rumahnya malah sibuk dengan urusan yang sepele. Kondisi psikis pengungsi pasti sangat berantakan. Ibu negara sebaiknya menjadi pendengar keluh kesah rakyat yang sedang tertimpa musibah. Bukan malah sibuk dengan kepentingannya sendiri. Tapi, ya beginilah keadaannya. Kekuatan rakyat masih ada untuk membantu korban bencana alam.

Sejauh ini, saya pribadi belum melihat adanya upaya bantuan dari pemerintah pusat (presiden). Hingga saya membaca sebuah berita dari jaringan detikcom di twitter, bahwa 12 orang meninggal dunia akibat banjir. Justru saya terkagum-kagum dengan banyaknya dukungan dari masyarakat yang bahu-membahu membantu korban bencana alam. Mereka membuka posko banjir dengan menerima bantuan berupa uang, pakaian, obat-obatan, makanan, selimut hingga tenaga bagi siapapun yang dengan sukarela ingin membantu korban bencana alam. Kemudian, mereka menyalurkan bantuan tersebut langsung ke tangan para pengungsi.

Satu hal yang paling ironis dari musibah ini adalah dimanfaatkannya bencana untuk menebar citra. Seorang anggota DPR memanfaatkan bantuan dari Dinas Kesehatan untuk korban banjir yang pada kemasannya ditempeli dengan foto dirinya sebagai ajang promosi untuk melanjutkan kembali ‘perjuangan’ di pemilu tahun ini. Sungguh, bukan perbuatan yang patut dicontoh sebagai seorang anggota dewan. Padahal, bantuan tersebut dari DinKes, tetapi digunakan untuk mencari suara saat orang-orang dilanda musibah. Jadi, seakan-akan bantuan dari anggota dewan tersebut bukan dari DinKes.

Sekali lagi menjadi pelajaran besar untuk kita semua. Banjir atau bencana lainnya bukan kesalahan alam dan jangan memanfaatkan bencana untuk mencari ‘muka’ atau ‘suara’. Bencana terjadi karena ada tangan-tangan kita yang menyebabkan mengapa alam bisa rusak sedemikian besarnya. Kecuali, gunung meletus yang terjadi secara alami. Pemerintah harus berani mengambil tindakan tegas. Melarang segala pembangunan gedung bertingkat seperti mall atau hotel, membangun ruang terbuka hijau, mencegah penebangan hutan secara ilegal, tidak adanya reboisasi, mengembalikan fungsi sungai, dan  revitalisasi waduk. Masyarakat juga harus disiplin untuk tidak membuang sampah sembarangan, baik ke sungai maupun ke selokan. Ini yang menyebabkan air tidak dapat mengalir karena tertutup sampah.

Indonesia sedang darurat bencana. 2014 menjadi awal yang penuh dengan kerja keras dan tugas berat bagi kita semua. Pemilu akan diselenggarakan tahun ini. Calon-calon pengisi bangku kekuasaan akan muncul dan duduk di Kompleks Senayan. Banyak wajah baru, tetapi tidak sedikit wajah lama. Tidak banyak harapan saya. Hanya ingin mereka amanah dan tidak korupsi. Cukup sederhana tapi berdampak besar bagi kesejahteraan rakyat. Tanpa banyak mencari muka untuk mendapatkan kekuasaan. Semuanya hanya sementara dan wujudnya hanya titipan. Bekerjalah dengan baik. Dipilih oleh rakyat, bekerjalah untuk rakyat, kembalikan semuanya kepada rakyat.

 

            

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s