Melatih Kesiapan Bersalin dengan Prenatal Yoga

-Adisa Soedarso-

Dibuat untuk Aparabumi

Aparabumi kembali menyelenggarakan kegiatan rutin bulanan. Minggu, 16 Februari 2014 di BCCF Bandung, Jalan Purnawarman No. 71, pukul 09.00 menjadi waktu dan tempat yang dipilih untuk diadakan pertemuan yang kedua. Tema yang diangkat adalah Yoga Prenatal. Erna, pelatih yoga di Rumah Sakit Ibu dan Anak Limijati menjadi pemandunya. Dibantu dengan bidan Okke yang mengisi sesi berbagi cerita di akhir acara. 

 

Acara dimulai pada pukul 09.30 menunggu datangnya dengan lengkap  para peserta. Dibuka oleh Jasmin, selaku pendiri Aparabumi. Ia menjelaskan mengenai kegiatan kedua setelah pertama kali berhasil di selenggarakan pada Bulan Januari. Pertemuan kedua dibagi menjadi 2 sesi. Pertama, kelas yoga prenatal bersama Erna.  Kedua adalah berbagi cerita atau tanya jawab antara peserta dengan Erna dan Okke mengenai masa kehamilan.

 

Sesi pertama dipandu oleh pelatih yoga, Erna yang sudah kompeten. Prenatal yoga ini memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Dibagi menjadi 3 bagian dengan 2 kali istirahat. Jumlah peserta yang hadir 15 orang, terdiri dari ibu-ibu hamil, bidan dan seorang ibu lanjut usia yg ingin melatih pernafasannya. Melalui koordinasi dari Erna, kelas prenatal yoga berlangsung dengan lancar.

 

Menurut Erna, berlatih prenatal yoga menambah hormon endorfin. “Sudah lulus berlatih yoga dan melahirkan, salah satu muridku  malah ketagihan untuk melakukan yoga. Tubuh biasanya minta sendiri”, jelas Erna. Prenatal yoga mampu mengoptimalkan posisi bayi saat melahirkan sehingga persalinan terasa mudah dan tidak menimbulkan rasa sakit yg berlebihan. Salah satu caranya adalah bernafas teratur. Tanpa kita sadari, oksigen yang masuk bermanfaat untuk perkembangan otak bayi. Saat bayi dalam kandungan, oksigen tersebut berguna untuk mengembangkan bayi yang cerdas. Saat prenatal yoga kita mempersiapkan otot pinggul dan dasar pinggul agar lentur. Jadi, saat melahirkan jalur lahir sudah siap dan tidak tiba-tiba membuka sendiri yang menyebabkan cedera. 

 

Ada beberapa teknik yang bisa dilakukan untuk prenatal yoga. Erna menjelaskan dengan rinci pada masing-masing teknik. Selama kelas prenatal yoga, peserta dipersilakan makan makanan kecil, yg tidak terlalu banyak. “Jangan lupa minum yg banyak,”, sahut Erna mengingatkan. Saat dimulai gerakan  prenatal, para peserta dilatih untuk memasang body awareness. Erna menyampaikan agar peserta tidak terlalu terburu-buru mengikuti gerakan. Ia ingin ibu-ibu hamil menikmati gerakan. Tidak ketinggalan, ia mempraktikkan postur duduk yang benar pada ibu hamil.

 

Kelas prenatal yoga  menggunakan musik yang lembut. Musik yg mengalun selama acara, mengiringi gerakan prenatal yoga. Mba Erna mulai mempraktikkan gerakan-gerakan prenatal yoga yang diikuti oleh para peserta. Peserta sangat antusias mengikuti setiap gerakan yang diberikan. Musik ternyata memberikan suasana tenang dan nyaman. Ternyata pengaruhnya sangat besar.

 

Praktik prenatal yoga dilakukan sekitar kurang lebih 90 menit dengan waktu istirahat masing-masing selama 5 menit. Gerakan-gerakan awal, para peserta dengan mudah mengikuti. Kelas yoga bersama Erna, dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama gerakan-gerakan yang mudah dilakukan. Bagian pertama ini memanfaatkan waktu selama 45 menit. Istirahat 5 menit, peserta dipersilakan untuk minum dan mengonsumsi makanan ringan yang dibawa. Selang 5 menit berlalu, bagian kedua dari kelas yoga ini dilanjutkan.  

 

Tahap kedua ini, langkah-langkah gerakannya mulai sulit. Peserta sudah tampak berkeringat. Ada pula yang kesulitan mengikuti. Namun, Erna, dan Jasmin tidak segan untuk membantu. Selanjutnya, istirahat kedua memakan waktu tidak jauh berbeda dengan istirahat pertama yaitu 5 menit. Sesi terakhir yang diberikan adalah gerakan relaksasi. Langkah-langkah gerakan diikuti dengan baik, meskipun ada beberapa peserta yang agak sulit mengikuti irama gerakan karena baru pertama kali mengikuti kelas prenatal yoga. 

 

Tidak jauh berbeda dengan  Erna, Jasmin juga menguasai gerakan-gerakan yoga. Ia adalah seorang asisten yoga di Rumah Sakit Limijati. Karena kemampuan itulah, selama kelas prenatal yog inia, Jasmin membantu Erna untuk meluruskan dan membenarkan gerakan peserta yang kurang tepat. Erna memberikan instruksi dengan langkah-langkah yang lebih pelan dari biasanya. Mengingat ada 2 peserta dengan usia kehamilan yang tua dengan posisi bayi sungsang.  

 

Relaksasi sebagai gerakan terakhir dilakukan secara berbaring di matras dengan menggunakan alat bantu yaitu sebuah bantal.  Relaksasi berfungsi untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan. Erna memandu proses relaksasi dengan menyampaikan kalimat-kalimat yang menyejukkan dan menyenangkan pikiran serta hati. Peserta diizinkan untuk tertidur sejenak selama 10-15 menit setelah berlatih variasi gerakan untuk melatih kekencangan otot saat melahirkan. Setelah semua peserta dibangunkan, Erna memandu peserta untuk memeluk sang jabang bayi dan meminta peserta memvisualisasikan wajah sang bayi. Tanpa sadar, seorang peserta menitikkan air mata. 

 

Sesi kelas prenatal yoga pun selesai. Selanjutnya, adalah berbagi dan bercerita mengenai pengalaman kehamilan peserta. Dipandu oleh Okke sebagai bidan, ia menjelaskan mengenai pijat perineum yang ditanyakan oleh salah satu peserta. “Manfaat perineum adalah untuk melenturkan area perineum. Area ini adalah jalur lahir yang dapat sobek seketika. Oleh, karena itu, pijat perineum berguna untuk meminimalisir risiko buruk yang tidak diinginkan saat kontraksi”, papar Okke. 

 

Okke memberikan pesan kepada para peserta untuk mengomunikasikan apa yang dirasakan saat persalinan kepada dokter. Upayakan agar kita tenang, sehingga dapat memberikan oksigen kepada bayi. Jadi, upayakan bersalin dengan rileks. Salah satu cara untuk membuat tenang adalah dengan jalan kaki atau jalan cepat. Diharapkan bayi akan mudah masuk ke pinggul. Sehingga, sirkulasi darah menjadi lancar. Kegiatan ringan ini berpengaruh dengan keadaan mulut lahir. Karena, darah akan mengalir dengan lancar dan membuat elastis. Selain itu, yang perlu diperhatikan menjelang melahirkan adalah konsultasi dengan dokter atau bidan yang berbeda itu hal yang halal. Ibu hami berhak menemukan ahli medis yang membuat kita nyaman. Sehingga, bersalin tidak akan menimbulkan rasa cemas. 

 

Saat sesi tanya jawab, Erna memberikan arahan pada peserta yang bayinya sungsang. Dipraktekkan langkah-langkah agar bayinya berputar posisi sesuai dengan keadaan alami. Ternyata bayi memiliki ruang yang nyaman dalam perut ibu. Sehingga, diperlukan ikhtiar agar posisi kepala bayi berada di jalan lahir.  Usahakan berlatih saat bayi banyak bergerak dari jam 9 hingga jam 1 malam. Latihan ini dilakukan sebelum menjelang tidur dengan pemanasan terlebih dahulu.  Lakukan secara berulang-ulang yaitu balance, grativitasi, dan movement

 

 

 

 

Menghadapi  kontraksi saat persalinan

 

Erna memberikan tips agar tenang saat kontraksi persalinan. Pertama, tetaplah bergerak. Dengan bergerak mengurangi rasa sakit yang cukup signifikan. 3 posisi bintang menghadapi rasa sakit, yaitu, cat and cow; saat kontraksi lebih banyak ke pinggul, gym ball; berputar, serta gerakan tekuk lutut lalu tarik nafas dan keluarkan perlahan. Untuk menghadapi kontraksi, bawa santai dan jangan menjadikan beban. Karena, proses tersebut adalah bagian dari perjalanan melahirkan. Hadapi dengan tenang dan yang dapat kita lakukan adalah mengurangi rasa sakitnya. 

 

Kemudian, Okke memaparkan bahwa selama bersalin tetaplah aktif berkegiatan. Sambil nonton televisi atau berolahraga. Ajak juga suami menari untuk mengurangi rasa sakit dari kontraksi. Hal ini sangat bermanfaat untuk memudahkan persalinan.Menurutnya, rasa nyaman menghantarkan kontraksi yang teratur. Tidak lupa juga menjelang hari-H, apa yg kita pikiran coba ditulis, lalu sampaikan pada dokter atau bidan. Karena, ibu hamil dan keluarga berhak menentukan skenario persalinan.

 

Tips untuk mengurangi sakit saat hamil

 

Sebelum acara ini ditutup, Erna mempraktikkan cara-cara mengurangi sakit pada pinggul dan punggung selama hamil. Dalam posisi cat, angkat pinggul lalu tahan oleh lutut, gunakan kepala tangan dari orang terdekat (suami atau ibu)  lalu letakkan pada bagian yang sakit (pinggul) kemudian tekan-putar-angkat dan  turunkan. Coba beberapa kali.  Tips yang terakhir adalah untuk meminimalisir sakit di bagian punggung. Yaitu, gunakan bantal sebagai sandaran tidur, tarik tangan ke arah atas oleh orang terdekat, tarik nafas dan lepaskan perlahan. Lakukan selama beberapa hitungan nafas. 

Semoga dengan berlatih prenatal yoga, kecemasan yang dirasa para peserta dapat berkurang. Sang ibu bisa tenang dan siap saat kontraksi persalinan. Usaha ini memberikan pengaruh yang besar berupa kenyamanan pada sang bayi saat pertama kali menghirup udara di dunia. 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s