Budaya Papua di Kelas Cerdas #0 Bandung

Buku Untuk Papua regional Bandung menyelenggarakan Kelas Cerdas #0 untuk edisi perdana. Bertempat di Common Room Jalan Muararajeun No. 15 Bandung, Kelas Cerdas berlangsung cukup meriah. Acara dimulai pukul 10.30 WIB, pada hari Sabtu, 22 Februari 2014. Peserta yang datang sekitar kurang lebih 15 orang. Kelas cerdas #0 mengambil tema tentang budaya Papua dengan Alfred Abidondifu dari pihak Buku Untuk Papua Bandung dan ketua UKIR ITB sebagai pembicara. Selain itu, juga menghadirkan Ronald Unan Bogar dari NTT Youth Project yang akan berbagi pengalaman selama mengikuti sebuah gerakan nasional yang bergengsi yaitu Parlemen Muda di Jakarta.

Kelas Cerdas diselenggarakan sebagai kegiatan rutin Buku Untuk Papua di masing-masing regional yang bertujuan untuk menyebarkan wawasan dan pengetahuan mengenai berbagai hal dari pembicara-pembicara yang kompeten di bidangnya masing-masing. Kelas cerdas tidak memungut biaya sedikitpun. Hanya saja, setiap peserta yang hadir diminta untuk membawa minimal satu buah buku untuk disumbangkan. Peserta datang dari mana saja. Panitia tidak memberikan batasan usia. Sehingga, terbuka bagi siapa saja baik pelajar, mahasiswa dan para pekerja.

Tema yang diambil pada acara pertama ini adalah pengenalan mengenai Buku Untuk Papua itu sendiri. Hal ini disampaikan oleh ketua kelas di Kelas Cerdas #0 ini yaitu Koko Friansa. Beliau adalah mahasiswa Telkom yang juga seorang relawan Buku Untuk Papua Bandung. Koko menjelaskan secara rinci mengenai apa itu Buku Untuk Papua, tujuan, visi dan misi serta dampak yang dirasakan. Alfred pun menambahkan mengenai kegiatan-kegiatan Buku Untuk Papua yang sudah dilakukan selama tahun 2014.

Setelah pengenalan mengenai Buku Untuk Papua, masing-masing peserta diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri. Hadir pula punggawa Buku Untuk Papua, Dayu Rifanto beserta Herlina Yulidia. Ternyata, peserta datang dari daerah yang berbeda-beda. Diantaranya ada yang dari Nabire, NTT, Makassar, dan Bandung. Mereka mengetahui acara ini dari akun Twitter @bukuntukpapua dan @BUPBandung. Banyak sekali kawan-kawan yang tertarik untuk datang ke Kelas Cerdas #0 Buku Untuk Papua Bandung. Tentu saja dengan tema yang dibawakan mengenai budaya Papua.

Pembicara pertama adalah seorang pria yang berhasil menjadi juara pada Parlemen Muda di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Ialah Ronald Unan Bogar, seorang mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, angkatan 2009 yang menggerakkan sebuah proyek sosial yaitu NTT Youth Project. Sebelumnya ia bergabung dalam gerakan 1 Ton Untuk Papua. Inspirasi NTT Youth Project didapatkan dari gerakan Buku Untuk Papua. Sebelumnya, ia sudah melihat kondisi yang cukup memprihatinkan di tanah kelahirannya, NTT mengenai pendidikan.

Dengan banyak fakta yang Unan temukan itulah yang mendorongnya untuk membuat sebuah proyek sosial. Proyek dan gerakan tesebut didedikasikan untuk anak-anak di daerahnya, NTT. Selama beberapa waktu ia pulang ke kampung halamannya untuk melengkapi data dan bertemu pihak yang menjadi narasumber demi mencari kelengkapan informasi. Selain itu, ia pun berkonsultasi dengan penggagas Buku Untuk Papua, yaitu Dayu Rifanto untuk meminta pendapat mengenai konsep yang ia bawa pada NTT Youth Project.

Proyek ini kemudian ia bawa pada sebuah gerakan nasional Parlemen Muda (@parlemen_muda) di Jakarta dari Indonesian Future Leaders dan Rumah Perubahan milik Rhenald Kasali. Selama kurang lebih 2 minggu, Unan bersama dengan 33 delegasi lainnya se-Indonesia bertemu untuk saling bertukar ide dan berbagi mengenai masalah-masalah sosial yang muncul di daerahnya masing-masing.

Akhir Januari 2014 menjadi sesuatu yang istimewa bagi Unan. Pasalnya, tanpa ekspektasi apapun, ia dinobatkan menjadi menjadi juara Parlemen Muda. Ia mengalahkan 33 provinsi lain dengan proyek-proyek sosial yang hebat. Selama di sana, ia ‘digembleng’ dengan banyak materi diantaranya mengenai public speaking dan kepemimpinan. 34 delegasi juga bertemu dengan para pemimpin Indonesia, diantaranya Roy Suryo (Menteri Pemuda dan Olahraga), Hajrianto Tohari (Wakil Ketua MPR),  dan Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas Kemendiknas, Harris Iskandar.

Di Parlemen Muda ada sesi di mana masing-masing delegasi menyampaikan mengenai masalah-masalah yang ada di wilayahnya. Unan bercerita tentang seorang anak yang sangat cerdas dan sekolahnya tidak sanggup menangani kecerdasan sang anak sampai akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Ia menyadari betapa banyak problem daerah yang tidak diketahuinya. Dan beruntung, Unan berada di tempat yang tepat untuk mengetahui seluk beluk permasalahan daerah yang diangkat menjadi masalah nasional.

Menjuarai Parlemen Muda adalah langkah awal Unan untuk menyelesaikan proyek sosialnya. Selama beberapa waktu ke depan, ia akan fokus untuk menjalankan proyek ini. Unan ingin agar kebutuhan pendidikan baik sarana dan prasarananya dapat terpenuhi. Lebih jauh ia ingin agar anak-anak NTT kreatif mengembangkan kemampuann mereka. Harapan terbesar adalah ingin pemerintah daaerah NTT dapat menyelesaikan masalah daerah khususnya pendidikan.

Begitulah Unan memaparkan tentang NTT Youth Project. Unan tidak membatasi siapapun untuk membantu menjalankan program ini. Ia berupaya semaksimal mungkin agar gerakan yang ia buat berjalan dengan baik dan konsisten. Semua peserta Kelas Cerdas #0 terpukau dengan materi yang ia paparkan. Teman dari sesama NTT menyampaikan rasa kagumnya kepada Unan atas perhatian yang sudah ia bangun dan ke depannya ingin belajar banyak dari Unan.

Sesi pertama sudah berlangsung kurang lebih satu jam. Sesi berikutnya adalah belajar budaya Papua dari Alfred. Sebelum masuk pada pembicara terakhir, panitia memberikan jeda istirahat kepada peserta. Air mineral dan kue basah dari sumbangan Kak Lina dibagikan secara merata kepada peserta. Semua dapat menikmati sajian yang diberikan. Saat istirahat dimanfaatkan oleh para peserta untuk saling sapa-menyapa dan bertukar informasi.

Selang 15 menit kemudian acara dimulai kembali. Kali ini pembicara langsung dari relawan Buku Untuk Papua Bandung, yaitu Alfred Abidondifu. Alfred memberikan materi tentang Tari Yospan dari Papua. Ia menyampaikan bahwa pakaian Tari Yospan sudah banyak dimodifikasi untuk mempermudah penggunaan dan pencarian bahan. Video Tari Yospan diputar untuk diperlihatkan kepada peserta. Karena, banyaknya permintaan untuk mempraktikkan tarian, akhirnya seluruh peserta dimohon berdiri untuk berlatih Tari Yospan.

Pada awalnya, seperti yang sudah dilihat peserta dalam video, Tari Yospan tampak mudah. Setelah mencoba praktik dengan Alfred yang memberikan contoh, banyak yang mengalami kesulitan. Tari Yospan termasuk sulit untuk pemula yang baru belajar. Karena, gerakan tangan dan kaki harus sepadan. “Perlu latihan berkali-kali ini”, ucap salah satu peserta.

Berlatih Tari Yospan selama beberapa menit ternyata cukup menguras keringat. Peserta diizinkan kembali untuk duduk dan meneguk air mineral yang sudah diberikan. Materi berikutnya yang disajikan Alfred adalah mengenai motif ukiran Papua. Inspirasi motif ukir Papua, khususnya ukiran Biak, berasal dari daun pakis. Alfred mencoba menggambarkan bagaimana ukiran Biak dapat terbentuk. Cukup sulit untuk menggambarkan sebuah motif dari daun pakis dalam sebuah bentuk. Bentuk yang bisa dibuat gambar ukiran daun pakis adalah lingkaran, kotak segi empat atau persegi panjang.

Di sela-sela pemaparan materi, peserta diberikan selembar kertas dan bolpoin untuk mencoba berlatih membuat motif ukiran Papua. Ada peserta yang sudah bisa membuat motif daun pakis dalam sebuah bentuk. Ada yang lingkaran maupun kotak persegi dengan modifikasi. Motif ini tidak ada filosofi tertentu. Orang-orang di Biak mengambil motif ini karena mereka banyak menemukan daun pakis. Sehingga, mereka menggunakan tumbuhan dari alam tersebut untuk dijadikan motif.

Motif-motif tersebut tergambar dalam ukiran pada patung-patung khas Papua. Jika kita berkunjung ke tanah Papua, kita akan banyak menemukan kerajinan tangan tersebut. Motifnya sangat beragam. Di masing-masing wilayah Papua tentu tidaklah sama. Minimal, para peserta di Kelas Cerdas #0 ini dapat mengenal salah satu motif Biak Papua yang bisa diperkenalkan kepada orang lain. Sehingga, dengan pengenalan motif Papua, wawasan kedaerahan menjadi bertambah, khususnya tanah yang kaya, Papua.

Sudah 3,5 jam Kelas Cerdas berlangsung. Semua materi sudah disampaikan kepada para peserta. Akhirnya, Kelas Cerdas #0 perdana Buku Untuk Papua Bandung selesai diselenggarakan. Tampak senyum sumringah yang terpancar dari wajah peserta. Mudah-mudahan materi-materi yang dipaparkan pembicara dapat bermanfaat bagi mereka. Selesai acara, Alfred memberikan souvenir khas Papua berupa kalung kepada Kak Pitra yang sudah bersedia meminjamkan Common Room kepada panitia. Kalung ini sebagai bentuk kenang-kenangan Buku Untuk Papua. Semoga silaturahmi dan kerja samanya bisa tetap terjaga. Tidak lupa juga, Koko mengingatkan kepada peserta untuk hadir pada Kelas Cerdas 1 bulan depan dengan tema yang menarik dan dengan pembicara yang ahli di bidangnya. Semoga bisa berlangsung lebih sukses

 

-Adisa Soedarso-

 

 Gambar

Foto bersama seluruh peserta dan pembicara #1

 

Gambar

Belajar Tarian Yospan

Gambar

Foto bersama #2

2 thoughts on “Budaya Papua di Kelas Cerdas #0 Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s