Belajar Bersyukur di Poli Anak RSHS Bandung

Kali ini saya datang terlambat. Biasanya pukul 09.00 pagi saya sudah tiba di Poli Anak RSHS Bandung. Tapi, karena ada yang harus saya kerjakan dahulu di rumah, jadi saya sampai di Poli Anak pukul 10.15. Ketika melihat Poli Anak RSHS, saya sedikit bingung. Karena, adik-adik yang saya temukan hanya dua orang. Selebihnya beberapa relawan. “Iyah nih adik-adiknya sedikit”, sapa Ome saat saya datang.

Bagi saya, sedikit banyak tidak masalah. Yang penting bagaimana kita bisa mendampingi dan membuat adik-adik bermain dengan senang. Di hadapan saya sudah ada Aul dan Rangga. Aul berusia 8 tahun, sedangkan Rangga saya perkirakan sekitar 3 tahun. Karena belum sempat menanyakan usia, Rangga sudah pulang bersama kedua orang tuanya. Ini kedua kalinya saya hadir bersama Happy Play. Kamis, 27 Maret 2014 adalah agenda rutin yang ditetapkan komunitas ini untuk bermain bersama adik-adik di Poli Anak RSHS Bandung.

Betapa sepinya hari ini, pikir saya. Kami berenam, menemani Aul saja. Sehingga, kamipun yang banyak bermain. Windy, relawan Happy Play, menawarkan bermain kartu agar sedikit ramai. Keputusan ini tepat. Ternyata, berisik-berisik kami terlihat oleh anak-anak yang berada di ruang tunggu. Saya dan Ome menyapa dan mengajak adik-adik tersebut untuk ikut bermain. Adik-adikpun banyak yang datang ke tempat bermain kami. Sekitar 8 anak aktif bermain dengan permainan-permainan yang dibawa oleh kawan-kawan Happy Play.

            Gilang dan Fatah bermain Affen Bande. Permainan ini sejenis mencari monyet dalam sebuah kantung dan meletakkan pada kertas yang disediakan disesuaikan dengan warnanya. Mereka tampak asik sekali dan tertawa dengan permainannya. Di samping saya, Aul sibuk mewarnai kartun disney. Dia banyak bertanya kepada saya, warna apa yang cocok untuk gaun gadis yang cantik dalam kertas tersebut. “Warna apa yah?”, tanya Aul. “ Terserah Aul, biru bisa, cokelat juga”, jawab saya.

            Pukul 11.00, rekan saya, Riska datang dengan terburu-buru. “Maaf yah terlambat”, kata dia. Dengan keadaan lelah, Riska bermain dengan beberapa anak laki-laki yang sudah dewasa. Mereka bermain Wackel Turm, menyusun batako kecil untuk bisa membuat sebuah bangunan yang menjulang. Begitupun dengan relawan-relawan lainnya yang sibuk bersama adik-adik.

            Happy Play menerima dengan terbuka adik-adik yang datang. Silih berganti dan tidak pasti. Siapapun akan diterima baik dan langsung mengajak bermain agar mereka riang. Hal ini dilakukan supaya mereka melupakan sejenak sakit mereka yang tentu saja menguras pikiran dan tenaga. Cara ini cukup menarik perhatian mereka. Karena, pada dasarnya mereka adalah seorang anak-anak yang butuh bermain bukan harus berobat rutin ke rumah sakit.

            Senyum dan tawa bahagia membanjiri Poli Anak RSHS Bandung. Melihat mereka bisa senang dengan pendampingan relawan-relawan Happy Play, membuat saya melupakan segala masalah yang ada. Orang tua yang sabar, adik-adik yang ikhlas menerima kenyataan bahwa mereka sedang sakit dan keluarga yang tulus mengantarkan untuk berobat. Bukan perkara mudah untuk menghadapi itu semua.

            Di sini saya belajar bagaimana seharusnya hidup. Bagaimana hidup harus banyak  memberi dan meluangkan waktu pada mereka yang membutuhkan. Secara fisik kita melihat bahwa anak-anak yang sakit di sini, bahagia dan tersenyum manis. Tapi, secara jiwa  mereka membutuhkan rasa kasih sayang dari orang di sekelilingnya untuk menghadapi cobaan berat ini.

Di Poli Anak saya belajar untuk selalu bersyukur dan tidak banyak mengeluh pada hal-hal sederhana sekalipun. Masih banyak adik-adik di RSHS yang masalahnya jauh lebih besar dan berat dibandingkan dengan saya yang sudah dewasa. Kita bisa melihat adik yang mengalami gerak motoriknya berjalan dengan lambat dan harus terapi rutin setiap minggu. Ada  juga yang sakit bibir sumbing dan sudah menjalani operasi. Namun, harus mengikuti jadwal kontrol yang padat.

Saya sempat mengobrol dengan keluarga Amel (1,5 tahun) yang sudah menjalani operasi bibir sumbing. Sekilas tidak tampak kurang dari wajah Amel, namun apabila kita perhatikan lebih saksama, ada jahitan di bibirnya. Menurut neneknya, Amel sejak kecil ditinggalkan oleh ibunya karena keadaannya yang tidak sempurna. Kemudian, dirawat oleh ayah, uak dan neneknya yang dengan sabar mengurus proses operasi ini sampai berhasil. “Proses kontrolnya panjang Amel mah, sampai umur 18 tahun”, jelas Uaknya.

Tidak tampak gurat kesedihan di wajah mereka. Terutama Amel yang sibuk bermain dengan memegang botol susu. Saya tidak menghilangkan kesempatan untuk mengambil gambarnya. Betapa malang Amel. Anak cantik ini harus ditinggalkan oleh ibu kandungnya sendiri sedari lahir.

Kalau melihat secara mendalam keadaan mereka, saya berpikir ulang untuk senantiasa bersyukur dalam hal apapun. Saya menjadi tahu bahwa masalah yang saya hadapi belum ada bandingannya dengan mereka. Tidak seharusnya saya mengeluh. Tetapi, harus memberikan sebagian tenaga dan waktu yang saya miliki untuk kebahagiaan mereka di Happy Play Poli Anak RSHS Bandung. 

 

Gambar

Amel yang cantik senang difoto

Gambar

Relawan Happy Play yang sibuk bermain dengan adik-adik

Gambar

Seorang adik yang bermain bongkar pasang beruang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s