Ada “Anak Bertanya” di #KECE1 BUP Bandung

Kelas Cerdas Buku Untuk Papua wilayah Bandung kembali diselenggarakan. Bertempat di Common Room, Jalan Muararajeun No. 15 Bandung, Sabtu, 22 Maret 2014, Kelas Cerdas BUP Bandung mengajak para peserta untuk menjadi saksi peresmian sebuah program yang dibuat oleh Pak Hendra, profesor matematika dari ITB, yaitu “Anak Bertanya Mahasiswa Menjawab”. Acara ini kedua kalinya diadakan setelah sebelumnya, kami mengangkat tema tentang budaya Papua.

Seperti biasanya, BUP Bandung tidak menarik biaya apapun kepada para peserta untuk hadir di #KECE1 ini. Cukup dengan membawa minimal satu buah buku anak-anak sebagai bentuk donasi . Secara sukarela peserta membawa berbagai jenis buku yang nantinya akan didistribusikan untuk rumah baca yang ada di Papua. Peserta yang hadir kurang lebih 15 orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang dari Nurtanio Husein Sastranegara, Kimia UIN Sunan Gunung Jati, Universitas Telkom dan sebagainya. Mereka ingin mendapat wawasan mengenai Papua dan tentu saja dari pembicara yang kami undang.

Pada #KECE1 yang kedua, BUP Bandung mengundang Pak Hendra, seorang akademisi yang memiliki ketertarikan yang sangat tinggi pada ilmu pengetahuan, khususnya pada anak-anak. Beliau mendirikan sebuah halaman website www.anakbertanya.com atau lebih dikenal dengan sapaan “Anak Bertanya Pakar Menjawab”. Bila kita sering jalan-jalan di twitter, kita akan menemukan sebuah akun @anakbertanya. Tidak jarang beberapa pakar yang ahli di bidangnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tertera pada akun atau website “anak bertanya”.

Acara dibuka oleh Koko Friansa, ketua kelas #KECE1 BUP Bandung. Ia menyampaikan pemutakhiran informasi mengenai BUP Bandung. Saat ini Buku Untuk Papua sedang menggalang dana di www.kitabisa.co.id untuk mengirimkan buku-buku yang ada di beberapa kota di Pulau Jawa. Dana yang dibutuhkan cukup besar. Notabene ongkos untuk ke Papua tidaklah sedikit. Apalagi buku-buku yang dikirimkan jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Jadi, BUP memutuskan untuk melakukan fundraising agar memperoleh dana segar yang digunakan sebagai biaya pengiriman ke rumah baca di Papua.

Sesuai dengan jadwal yang sudah dibuat, setelah penyampaian pesan dari  Koko untuk #KECE1, kita kedatangan pembicara dari gerakan 1 Ton Untuk Papua. Diantara rekan-rekan sekalian, ada yang pernah dengan gerakan ini? Ya, gerakan ini dibangun untuk membantu saudara-saudara kita yang ada di Distrik Saminage, Papua. Bilamana teman-teman pernah mengetahui kondisi kehidupan di sana, akan menemukan sebuah kenyataan, bahwa hidup mereka jauh dari segala fasilitas yang memadai. Oleh karena itu, teman-teman dari HI Unpad, membentuk gerakan ini sebagai upaya membangun mimpi dan harapan bagi keluarga di Saminage. Akan tetapi, karena teman-teman dari 1 Ton Untuk Papua masih dalam perjalanan, jadwal acara dimajukan ke pemaparan “Anak Bertanya Mahasiswa Menjawab” dari Pak Hendra.

Pak Hendra ialah seorang yang aktif untuk mengembangkan pengetahuan. Tak terkecuali untuk anak-anak sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas, bahkan yang sudah duduk di perguruan tinggi. Ini tercetus karena banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh anak-anak yang seringkali banyak orang tua tidak bisa menjawab. Website ini lalu mengakomodir seluruh pertanyaan yang ada kemudian dijawab oleh orang-orang yang kompeten untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Pak Hendra sudah mendirikan “Anak Bertanya Pakar Menjawab” pada tahun 2013. Ia bekerja bersama tim. Baik tim pembuatan website, pencarian pakar, hingga penyusunan jawaban. Jika kita menengok pada website www.anakbertanya.com, kita akan menemukan suasana yang menarik. Tim anak bertanya bekerja keras agar website yang ada bisa tampil bagus dan bisa dinikmati oleh siapapun. Baik anak-anak maupun orang tua. Pada website  seluruhnya sudah tersaji pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan oleh orang tua dan ada jawaban yang diberikan oleh pakar yang sudah didata oleh tim.

Dalam acara ini, Pak Hendra meresmikan programnya yang baru, yaitu “Anak Bertanya Mahasiswa Menjawab”. Ia melebarkan sayap bahwa tidak hanya melibatkan pakar saja dalam proyeknya, namun juga mahasiswa. Sehingga, seluruh lapisan akan terlibat secara aktif untuk membantu anak-anak menjawab pertanyaan. Pak Hendra kemudian membagikan pin kepada para peserta sebagai tanda keluarga “Anak Bertanya”. “Saya ingin bahwa “Anak Bertanya” ini bisa bermanfaat buat siapapun yang haus akan pengetahuan”, tutupnya di akhir presentasi.

Setelah pemaparan dari Pak Hendra dilanjutkan dengan istirahat sekitar 15 menit. Peserta dibagikan makanan dan minuman yang disediakan oleh pihak panitia BUP Bandung. Selang istirahat berlalu, saatnya kawan-kawan 1 Ton Untuk Papua menyampaikan pengalaman mereka selama menjalankan misinya di Distrik Saminage.

Riyanti dan Unan, adalah salah dua dari banyak penggerak yang menjalankan program ini. Mereka sebelumnya sudah melakukan survei, daerah mana di Papua yang sangat minim dari fasilitas. Sebenarnya, masih banyak daerah di Papua yang kekurangan. Namun, Distrik Saminage dipilih oleh mereka. 1 Ton Untuk Papua memberikan banyak bantuan kepada masyarakat di Saminage. Para penggerak berupaya maksimal agar kebutuhan-kebutuhan untuk masyarakat di Saminage terpenuhi. Diantaranya, alat tulis, buku-buku pelajaran serta kebutuhan lainnya.

Seharusnya, banyak yang  hadir memberikan pengalaman mahalnya selama di Saminage dari 1 Ton Untuk Papua. Sayangnya, beberapa diantara mereka berhalangan hadir. Tetapi, hal ini tidak menyurutkan niat Riyanti dan Unan untuk berbagi. Saat di Saminage, Riyanti hanya berdua dengan Soni selama kurang lebih 1,5 bulan. Dengan kondisi yang apa adanya, mereka harus bertahan tanpa sinyal dan listrik di sana. Betapa besar perjuangan mereka untuk membangun cita-cita di tanah Saminage.

Riyanti bercerita bagaimana kehidupan di sana yang jauh dari kemapanan. Betapa Papua kaya akan sumber daya alam tetapi kondisi warga di sana memprihatinkan. Sekolah dasar hanya ada 1 dengan ruang kelas yang terbatas. Ditambah dengan penyediaan guru yang hanya 1 orang untuk 6 jenjang di sekolah dasar. Itupun mereka belajar tidak setiap hari. Riyanti berupaya untuk membujuk seorang guru agar rutin mengajar. Meskipun mereka belajar tanpa seragam, tanpa papan tulis dan hanya belajar di halaman sekolah.

Salah satu misi yang harus dilaksanakan oleh 1 Ton Untuk Papua adalah membangun sebuah honai yang digunakan sebagai perpustakaan. Masyarakat bahu-membahu membantu Riyanti untuk membangun honai yang bahan-bahannya didapatkan dari alam. Temboknya dari pohon dan atapnya dari rumput-rumput liar. Anak-anak senang sekali dengan kehadiran honai ini yang kelak digunakan mereka untuk belajar. “Ini adalah honai mimpi yang digunakan untuk menjaga anak-anak tetap percaya pada mimpinya”, ujar Riyanti.

3,5 jam sudah #KECE1 berlangsung. Sepertinya, para peserta sangat antusias mendengarkan cerita Pak Hendra, Riyanti serta Unan. Namun, karena keterbatasan waktu, acara ini harus berakhir. Mudah-mudahan para peserta bisa mendapatkan gambaran bagaimana harus bekerja sama memberdayakan saudara-saudara kita yang ada dengan kemampuan yang dimiliki. Tanpa mengenal perbedaan status sosial, agama, suku dan adat istiadat. 

Gambar

Ketua Kelas #KECE1 memberikan kaos Buku Untuk Papua kepada Pak Hendra

Gambar

Saya bersama dua anak ganteng yang jago Bahasa Sunda 

Gambar

Riyanti dan Unan dari 1 Ton Untuk Papua 

2 thoughts on “Ada “Anak Bertanya” di #KECE1 BUP Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s