Masih Mau Ngeluh?

Tulisan ini saya buat setelah saya ikut bergabung bersama Teh Lulu dan Kang Danang dari Gerakan Berbagi Nasi. Sudah lama saya follow akun twitter @berbaginasiID. Tetapi, karena jadwal mereka berbagi nasi malam hari, alhasil saya tidak bisa mengikuti karena tidak dapat izin orang tua. Saya hanya ‘kenyang’ dengan melihat cerita-cerita relawan di akun tersebut. Rasanya ingin sekali ikut membantu membagikan untuk orang-orang di jalan. Mungkin belum tepat waktunya.

Keseringan melihat berbagai informasi di twitter memberikan manfaat kepada saya. Salah satunya, saya mendapat kabar bahwa Berbagi Nasi memiliki kegiatan di siang hari. Biasanya jadwal mereka membagikan makanan setiap hari Kamis dan Sabtu pukul 21.00 berkumpul di Bank Danamon Jalan Merdeka. Kali ini ada jadwal pada hari Rabu pukul 13.00 di Rumah Singgah basement Gedung Kemuning Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Akhirnya, saya putuskan untuk menanyakan kepada contact person, yaitu Kang Danang melalui pesan singkat di whatsapp, Selasa malam. “Langsung saja datang ya di Gedung Kemuning basement RSHS. Sebenarnya mereka gak cuma butuh makanan nasi sih, mereka butuh makanan jiwa”, jelas Danang. “Oke siap, Kang”, jawab saya. Keesokan harinya saya datang ke Gedung Kemuning. Namun, tempat yang dituju ternyata salah. Saya harus turun ke basement untuk sampai di tujuan. Saya berkenalan dengan Teh Lulu dan Kang Danang.

Mereka membawa 2 plastik besar yang berisi 50 bungkus makanan. Seluruhnya akan dibagikan kepada pasien dan keluarga yang sakit di Rumah Singgah. Saya sempat bingung kenapa harus di basement bukan di kamar pasien. Saya belum mendapat jawaban apapun karena belum sempat bertanya kepada Teh Lulu ataupun Kang Danang. Saya dan Teh Lulu bertugas membagikan nasi bungkus kepada para pasien. Mereka duduk “ngampar” di lantai musholla. Tidak ada sekat atau ruang khusus seperti yang lazim kita temukan di rumah sakit. Ruang pertaa adalah dekat dengan parkiran mobil. Sebanyak 15 pasien sudah kami bagikan.

Sembari membagikan, saya sempat mengobrol dengan pasien dan ibunya. Mereka datang dari Cirebon. Putra ibu tersebut menderita tumor (maaf) anus. Sudah beberapa kali operasi dan harus terus kontrol agar segera sembuh. Saya sangat sedih mendengarnya. Gurat ketegaran tampak di wajah mereka. Saya tidak banyak mengobrol karena harus bergegas membagikan makanan ke ruang selanjutnya.

Dua ruang yang saya datangi lebih layak dibanding ruang (dadakan) sebelumnya. Ruang tertutup dengan jumlah pasien 15-20 orang. Rata-rata sudah lanjut usia. Mereka tinggal bersama dan berdampingan dengan pasien-pasien lainnya. Harus berbagi tempat di lokasi yang sangat sempit. Setelah habis plastik pertama, kini nasi diambil di plastik yang kedua. Di ruang dua, ibu perawat sempat khawatir akan kehabisan nasi. Tapi, saya yakinkan bahwa nasinya akan cukup. Alhamdulillah, seluruh pasien dan keluarganya sudah diberikan nasi tanpa ada yang kekurangan.

Saya sangat ingin mengobrol lama dengan mereka. Tapi, karena kondisi yang ramai di ruangan, jadi kami hanya sempat foto saja dengan pasien. Sejenak saya bertanya kepada Kang Danang, mengapa mereka dirawat di sini. “Mereka kan mengalami sakit yang cukup berat, jadi harus terapi atau kontrol rutin setiap minggu. Rata-rata rumah mereka tuh jauh engga di Kota Bandung. Karena, akan memakan biaya yang sangat banyak dan menghabiskan tenaga, jadilah dibuka kamar dadakan bersama”, Danang menjelaskan dengan rinci.

Saya terdiam mendengar apa yang disampaikan Kang Danang. Teh Lulu yang duduk disampingnya pun tampak lemas melihat kondisi pasien di sini. “ Di sini gak ada kamar mandi sama sekali, Dis. Jadi, itu tempat sampah di pojok jadi tempat mandi dan cuci kakus mereka”, seraya menunjuk di pojok tembok. Rasanya saya ingin nangis seketika itu. Bagaimana mereka harus bertahan dengan kondisi seperti ini.

Tidak selang berapa lama kami membagikan nasi, datang rekan Teh Lulu dan Kang Danang yaitu Kang David yang merupakan relawan di Berbagi Nasi. Kang Danang juga sempat diwawancarai oleh mahasiswi UPI yang ingin ikut bergabung pada pembagian makanan siang itu. Sayangnya, nasi sudah dibagikan. “Minggu depan aja nanti ikut yah, atau Kamis dan Sabtu pas malem. Kalau siang yah Rabu jam 1”, jawab Danang. Salah satu mahasiswi UPI ada yang sempat bergabung di Berbagi Nasi pada malam hari. Dia mengajak teman-temannya untuk turut membantu membagikan makanan.

Setelah mahasiswi UPI pamit izin untuk pulang, saya mengobrol dengan Teh Lulu dan Kang Danang. Mereka bercerita bagaimana kondisi orang-orang di lapangan. “Saya mah udah lihat sendiri orang mau sakaratul maut 2 kali”, kata Danang. Begitupun Teh Lulu yang menceritakan pengalamannya selama bergabung. “Ah, pokoknya setelah di sini mah jadi banyak bersyukur, lihat masalah datang tuh, ah masalah mah masih kecil, masih bisa tidur dengan kasur dan selimut. Kalau di jalan mah aduh orang-orang tidur di tanah, alasnya karung sama karton”, cerita Lulu dengan berbinar. Saya bingung harus merespon dengan kata dan tindakan apa. Meskipun saya hanya mendengar cerita dari mereka, tapi hati saya ikut terenyuh. Betapa saya yang masih diberikan kesehatan dan kelapangan tapi masih saja sering mengeluh pada hal-hal sepele. Sedangkan, orang-orang di luar sana tampak bahagia dengan kondisi kekurangan dan keterbatasan mereka.

Sambil menunggu adem dari cuaca yang cukup panas, saya menyapa seorang ibu-ibu yang sedang mengobrol. Dia sedang menunggu salah satu keluarganya yang sakit tumor, sepertinya kelenjar getah bening. Karena, muncul benjolan di belakang telinga. “Alhamdulillah sekarang mah udah kecil neng sejak dilaser, jadi minggu ini bisa pulang ke Sukabumi”, cerita ibu yang datang dari pesisir pantai. Di sebelahnya juga ada seorang ibu yang mengantar suaminya berobat. “Suami saya tumor neng di paha, udah operasi tapi muncul lagi, akhirnya diamputasi, jalan terbaik kata dokter mah. Eh, sekarang munncul lagi diperut. Jadi, mau dilaser “, kata Bu Wariah. Mendengar kisah mereka mengajarkan saya bahwa keluhan-keluhan yang sering saya lontarkan belum ada apa-apanya dengan beban yang mereka hadapi.

Teh Lulu menepuk pundak saya untuk bergegas pulang. Tidak cukup hanya 1 jam untuk membagi nasi. Butuh berjam-jam untuk mendengar kisah pasien yang sangat berharga. Gerakan ini mengajarkan banyak hal pada kita, bahwa keluhan-keluhan kita tidak berarti apapun dengan cerita di lapangan. Kita masih bisa hidup layak dan harus banyak bersyukur. Dan di gerakan ini cara mensyukurinya adalah dengan berbagi makanan fisik maupun jiwa. Masih mau ngeluh? 

Gambar

Bersama Teh Lulu, ibu perawat dan Alul

Gambar

Ruangan musholla yang digunakan untuk pasien

Gambar

Basement untuk Rumah Singgah pasien 

4 thoughts on “Masih Mau Ngeluh?

  1. nasi untuk menambah tenaga. berbincang untuk menambah semangat hidup mereka bahwa kita sesama, saling peduli, saling mendukung. tenaga + semangat : ga ada yg ga mungkin🙂
    #berbaginasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s