Yoga untuk Pasangan Suami Istri

Aparabumi #6

Yoga berkembang menjadi senam sehat bagi pasangan yang sudah menikah. Tema inilah yang diangkat oleh Aparabumi pada pertemuannya yang ke-6. Kali ini Aparabumi #6 tidak diselenggarakan di BCCF Jalan Purnawarman, akan tetapi di Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Perintis Kemerdekaan No. 5 Bandung. Mengundang seorang instruktur yoga dan food therapist, Dian, yang akan memandu  delapan pasangan suami istri untuk berlatih yoga yang bisa dipraktikkan di rumah masing-masing.

 

Tepat pukul 09.00 acara dimulai, dipandu oleh Dian yang membuka dengan penjelasan mengenai yoga pasutri. Dian menyampaikan bahwa setiap pasangan harus saling memberi ketulusan cinta sehingga energi yang dirasakan berbeda. Jadi lebih santai dan rileks. Dalam berlatih yoga, baik suami maupun istri harus memberikan koreksi dan membantu gerakan-gerakan yang salah.

 

Setelah penjelasan disampaikan, Dian langsung mengajak para peserta untuk mencoba berlatih yoga pasutri. Masing-masing sudah siap dengan matrassnya sebagai alas agar tidak cedera. Berikut langkah-langkahnya :

  1.  posisi duduk, postur tubuh tegak dengan telapak tangan diletakkan di atas lutut, ujung ibu jari menyentuh ujung telunjuk kiri dan kanan.
  2. Ambil nafas perlahan dan lepaskan dengan tenang.

Lakukan aktivitas yoga tersebut setiap pagi hari baik istri maupun suami dengan suasana yang nyaman sebanyak 15 kali tarikan dan hembusan nafas. Selanjutnya ialah :

  1. kepalkan tangan, letakkan di depan wajah, buka perlahan-lahan, lakukan beberapa kali.
  2. Kepala diputar pelan-pelan dari arah kanan dan kiri.
  3. Tangan saling menyatu simpan di belakang kepala, angkat kepala dan dagu.
  4. Tarik kepala ke kiri dan kanan diikuti dengan tarikan dan hembusan nafas.

Dian mengingatkan bahwa gerakan sederhana tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan. “Jangan lihat kesan ‘wah’ tapi lihat gunanya”, tutur Dian.

 

Beberapa peserta ada yang tampak kesulitan mengikuti gerakan karena baru pertama kali berlatih yoga. Setiap gerakan yang diberikan Dian, dibarengi dengan tarikan dan hembusan nafas karena sangat bermanfaat pada saat kehamilan dan persalinan.

 

Gerakan berikutnya ialah kaki diluruskan, posisi badan masih duduk tegak, badan didorong ke depan, jari-jari kaki dipegang kemudian didorong ke depan dan ke belakang. Setelah cukup lama duduk, peserta diinstruksikan untuk berdiri, kaki dan badan tegak lurus. Gerakan ini sedikit melelahkan tetapi bermanfaat untuk latihan pernafasan. Berikut langkahnya :

  1. Kaki kanan di depan, telapak kaki menghadap ke depan, tumpuannya adalah tumit, kedua tangan diangkat ke atas, dorong badan dari tegak lurus menjadi condong 90 derajat ke depan, diikuti dengan tangan yang juga digerakkan, tarik nafas-buang nafas.
  2. Ulangi dengan kaki kiri yang di depan. Tumit sebagai tumpuan. Tangan diangkat ke atas, dorong badan dan tangan condong ke depan 90 derajat, ikuti dengan tarikan dan hembusan nafas dalam.

 

Sesi ini yang ditunggu-tunggu para peserta, yaitu yoga dengan diiringi musik. Musik yang menenangkan hati pasutri. Peserta mengulang gerakan yang sudah diberikan dengan diiringi musik. Cukup sulit untuk mengingat kembali gerakan sebelumnya. Tapi, tidak menjadi masalah, karena Dian membantu memberi contoh. Gerakan yoga ini bisa digunakan pasutri di rumah.

 

Satu jam telah berlalu, peserta diberikan waktu untuk istirahat. Terlihat wajah kelelahan tapi mereka sangat antusias dengan Dian. Ia tidak sungkan untuk memberi ‘wejangan’ kepada pasutri agar

 

Yoga terakhir untuk pasutri adalah gerakan memijat. Pertama, giliran istri tengkurap dan suami memijit bagian pinggang hingga ke bagian bokong, tulang ekor dan usap-usap bagian punggungnya. Untuk perempuan bantu dengan pijat bagian tangan karena beban pekerjaan mereka lebih berat. Kedua, bagian suami untuk duduk dan dipijat di pinggir belikat. Setelah saling bergantian memijat, pasutri duduk dengan kaki ditekuk menyamping, tapak kaki menghadap ke atas, pijat bagian lutut selama dua menit. Akhirnya, yoga pasutri selesai dilakukan.

 

Tidak hanya mengajarkan pelatihan yoga pasutri, Dian juga menyampaikan saran menu  kesehatan kepada peserta, yaitu makanan ringan dari wijen. Berikut bahan dan proses pembuatan :

–          Wijen, madu, kismis, kurma, kacang, kayu manis, jahe.

–          wijen disangrai, madu, kismis, kurma, kacang (jika tidak kolesterol), masukkan madu diaduk, masukkan kismis, kurma, kasih kayu manis, masukkan jahe, tunggu hingga matang dan masukan di toples.

Pasutri dapat menikmati makanan ringan tersebut untuk menghindari goreng-gorengan yang tidak baik untuk kesehatan dan berusaha memperbanyak sayur serta buah-buahan.

 

Menutup acara, Helena, seorang ibu yang bercerita tentang kehamilan rhesus negatif. Bahwa, di Asia untuk rhesus negatif tidak terlalu banyak. Wilayah Eropa memiliki kondisi yang cukup memprihatinkan. Di Asia sendiri ada 1,2 juta orang yang memiliki rhesus negatif. Akan tetapi, penting untuk diketahui para calon pengantin agar ketika memiliki anak, tidak ada dampak yang dirasakan dengan perbedaan resus.  Rhesus adalah protein (antigen) yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Mereka yang memiliki rhesus positif berarti memiliki protein dan yang tidak memiliki menunjukkan rhesus negatif. Untuk mengetahui kondisi darah tersebut, maka perlu dilakukan tes darah sehingga antisipasi dapat dilakukan sejak dini.

 

Sumber : http://www.infosehat09hartonoprasetyo.wordpress.com

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s