Hidup adalah Tentang Berbagi

“Mau ambil uang di ATM ah pas sudah turun dari angkot”, begitu pikirku. Lalu aku turun di Jalan Surapati dekat Gasibu sembari menyerahkan uang Rp 3.000,00 kepada pengemudi angkot. Dengan penuh was-was dan hati-hati saya menyeberang jalan raya yang sangat padat dengan lalu lintas kendaraan. Tiba di depan ATM Telkom Japati, saya melenggang dengan santainya masuk ke ruang ATM diikuti dengan mengambil kartu ATM di dompet. Setelah bertransaksi, sempat bingung dengan jumlah saldo yang menyusut dengan drastis. Sayapun sedikit lama mengambil kartu ATM yang keluar dari mesin. Tiba-tiba selang beberapa detik saya melihat struk proses transaksi, kartu tersebut tersedot masuk lagi ke dalam mesin. Sontak saya panik bukan kepalang. Menekan tombol mesin berkali-kali ternyata tidak memberikan hasil apapun. Akhirnya, saya keluar dan menyampaikannya kepada orang yang ada di depan ATM bahwa kartu saya tertelan mesin. “Coba telpon call center, Mbak atau ke banknya yang ada di kantor Telkom”, saran seorang bapak. Dengan tergesa-gesa saya berlari untuk menyambangi bank untuk segera melakukan pemblokiran kartu ATM agar tidak disalahgunakan.

Berdasarkan informasi yang disampaikan petugas customer service, saya harus membuat ulang kartu ATM dengan menyertakan buku tabungan. Sempat kecewa karena buku tabungan disimpan di rumah dan ingin buru-buru mendapat kartu yang baru. Setelah mendapatkan saran dari pacar, akhirnya saya putuskan untuk pulang ke rumah demi mengambil buku tabungan.

Selama diperjalanan pulang, saya memberikan kabar melalui pesan singkat kepada mama bahwa saya kembali ke rumah karena ada barang yang ketinggalan. Mengingat mama orangnya mudah panik, jadi saya (harus) berbohong sedikit untuk meminimalisir kepanikannya.

Sesampainya di depan Jl. Indramayu, saya mendengar mama berteriak “kok pulang? apa yang ketinggalan?”
Dengan senyum-senyum saya mendekatinya dan berkata “ATM tertelan, mau ambil buku tabungan untuk syarat bikin kartu yang baru”. “Aduh ada-ada aja deh, hati-hati makanya kalau ambil uang”, sewot mama. Di atas motor, saya sedikit berbincang mengenai masalah yang baru saja saya alami. Di tengah-tengah perbincangan, saya dan mama melihat seorang bapak-bapak tua yang pernah saya jumpai di Gasibu tempo hari. Bapak tersebut membawa dua buah keranjang dengan terbungkuk-bungku. Spontan, mama memberhentikan motornya seraya menyerahkan uang kepada saya untuk diberikan kepada bapak tersebut. Namun, saya tolak. “Udah neng aja, Mah”, ucap saya.

Sayapun mendekati bapak tersebut dan menepuk pundaknya sehingga beliau berhenti dan meletakkan dua buah keranjangnya. “Pak, saya mau beli keripiknya yang di keranjang. Sabaraha, Pak?”, ucap saya. Saya mengajak ngobrol bapak tersebut, akan tetapi tidak digubris sedikitpun. Saya coba ulangi pertanyaan saya dan akhirnya beliau jawab. “Lapan rebuen, Neng”, jawabnya lirih. Ternyata beliau menggunakan alat bantu pendengaran. Karena, kondisinya yang sudah sangat tua dan sulit untuk mendengar ucapan orang lain. Akhirnya, saya membeli keripik singkong tersebut dan menyerahkan selembar uang. “Teu aya kembaliana, Neng”, katanya. “Wios Pak untuk Bapak saja kembaliannya”, balas saya.
Sungguh, saya sulit untuk menggambarkan keadaan Bapak tersebut. Usianya sudah sangat tua. Diperkirakan 70-an tahun. Jalannya terbungkuk-bungkuk dan sangat lambat sekali. Sesekali ia merintih lelah dan keluar keringat dari keningnya. Tempo waktu saya pernah menjumpainya di Gasibu. Pakaiannya lusuh sekali. Ia ingin duduk melepas lelah tetapi kesulitan. Saya yang berada tidak jauh dari ia berdiri, langsung membantunya untuk duduk di trotoar. Saya ajak ia mengobrol tetapi ia tidak mendengar sedikitpun apa yang saya ucapkan.
Saya bertemu (lagi) dengannya untuk kedua kali dengan kondisi yang lebih baik. Sudah berpakaian agak rapi, bertopi, menggunakan alat bantu pendengaran dan tongkat kesehatan. Meskipun, kondisi fisiknya masih saja sama. Sepertinya ada seorang dermawan yang memberikan pakaian dan alat bantu dengar kepadanya. Seketika itu saya melupakan masalah yang tengah saya hadapi. Saya menghela nafas pelan-pelan untuk menghindari jatuhnya air mata (maaf ya sedikit hiperbolis) karena melihat kondisi Bapak itu dan saya belum bisa membantu banyak dengan apa yang saya miliki. Saya hanya sedikit memberikan uang yang saya bawa saat ini. Tampak raut wajahnya terpancar aura bahagia ketika saya memberikan kelebihan uang itu.
Beberapa ibu yang sedang lewat di depan jalan itu berhenti untuk membeli keripik yang dibawa bapak tersebut. Sayapun kembali menaiki motor untuk pulang ke rumah. Topik pembicaraan mengenai tertelannya ATM menjadi hilang seketika dan beralih pada pembicaraan mengenai bapak penjual keripik singkong. Saya kembali pada tujuan awal untuk mengambil buku tabungan dan meninggalkan bapak tersebut dengan perasaan (sedikit) bahagia serta penuh doa pengharapan untuk berjumpa dengannya lagi.
Saat kondisi saya yang panik dan terjepit, ada saja cara Allah Swt untuk memberikan teguran pada saya bahwa saya adalah orang yang beruntung diantara orang lain. Allah sedang bercanda sama saya. Allah bercanda pada uang yang saya pegang ketika itu. Dan Allah menunjukkan bahwa tidak selamanya uang yang kita miliki adalah hak kita.
Hidup semestinya adalah kombinasi antara rasa syukur dalam menerima dan upaya untuk saling berbagi. Dalam tulisan ini saya bukan ingin membahas kronologis tertelannya kartu ATM saya. Itu hanya intro saja.Tetapi, ada beberapa fragmen yang ingin saya kisahkan. Betapa sebuah kekhawatiran akan duniawi berubah menjadi rasa syukur dan bahagia. Buatlah orang lain bahagia dengan tindakan yang kita lakukan. Bahagia orang lain adalah bahagia kita bersama.
Karena, kita adalah perpanjangan tangan Allah untuk mendistribusikan rasa bahagia kepada orang-orang di sekeliling kita. Disaat kita menghadapi sebuah kekecewaan dan penyesalan, akan datang orang lain sebagai pengantar kesyukuran. Percayalah ada pelangi dan mentari yang menyinari kita saat mendung mengelilingi.

IMG-20141202-WA004

Nb : Jika berjumpa dengan bapak tersebut, ajaklah bercengkerama. Berikan uang, makanan dan sandang yang kita punya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s