Jalan-Jalan ke Masigit Kareumbi (Bagian 1)

Beruntung saya berada dalam suasana kerja yang orang-orangnya suka berpetualang dan mencintai lingkungan. Kali ini kantor berpindah ruang kerja. Biasanya di depan laptop atau komputer masing-masing. Tapi, kali ini ke alam bebas, tepatnya Masigit Kareumbi. Ada yang tahu sebelumnya tentang Masigit Kareumbi? Bagi yang suka melakukan uji adrenalin mendaki gunung, pasti tahu wilayah ini. Lalu, apa hubungannya? Tentu ada dong. Teman-teman Wanadri yang suka naik gunung, sebelum mendaki, melakukan pelatihan fisik di sini.

Masigit Kareumbi terletak di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sejak kuliah, saya memang sering mendengar Cicalengka. Namun, sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di sana. “Ini kesempatan buat main-main sama alam dan meminimalisir penat yang sudah menggunung”, pikirku. Kantor memang selalu membuat karyawannya tidak larut dengan pekerjaan yang berat. Setiap ada waktu kosong, selalu saja diisi dengan wisata yang edukatif dan bermanfaat.

Hal yang paling penting sebelum berangkat wisata adalah tahu akan berangkat menggunakan transportasi apa, berapa jumlah ongkosnya, dan apa saja yang akan dibawa. Kami berencana naik kereta ke Cicalengka. Setelahnya naik angkot untuk sampai di Masigit Kareumbi. Grup kantor cenderung sepi-sepi saja dimalam sebelum keberangkatan. Berbeda dengan otak saya yang bertanya-tanya mengenai keberangkatan esok hari. Jadi, saya putuskan untuk menyiapkan segala kelengkapan pada pagi hari. Toh, tidak bepergian jauh-jauh.

Pagi harinya, Jum’at, 26 November 2014, grup sudah berisik dengan segala ungkapan-ungkapan yang bikin semangat hari itu. Akhirnya, saya menyiapkan tas trek Save Turtle dari baGoes.id diisi dengan dompet, mukena, sendal, payung, jas hujan, tumbler dan obat-obatan.

Kelompok dibagi 2. Kelompok Stasiun Bandung dan Stasiun Kiaracondong. Berhubung rumah saya dekat dengan Stasiun Kircon (sebutan singkat Kiaracondong), jadi saya memutuskan untuk berangkat dari Kircon bersama dengan Gagas dan Teh Ratih. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari grup dimalam sebelumnya, jadwal kereta ke Cicalengka dari Bandung adalah 06.30 WIB. Jadi, yang di Kircon harus siap jam 06.50.

Saya tipikal orang yang tepat waktu. Jam 06.15 saya sudah tiba di Kircon dengan diantar oleh ibu saya. Sebelumnya saya tidak mendapatkan informasi (karena tidak cek selular) kalau kelompok Bandung banyak yang telat sampai dan beralih jadwal ke pukul 07.40 WIB. Jadi, saya yang sudah antri di depan loket dengan membeli 3 tiket kereta ke Cicalengka pukul 06.50 ternyata sia-sia. Saya sempat kaget dengan harga tiket kelas ekonomi kereta yang hanya Rp 1.500,00/ tiket. Murah bukan? Saya dan 2 teman akhirnya kembali membeli tiket yang jam 08.22 WIB. Cukup lama menunggu, saya dan Teh Ratih membeli makanan di warung depan stasiun.

Tiba juga kereta dari Bandung menuju Cicalengka. Setelah naik ke atas kereta, saya sedikit takjub dengan kondisi ruangannya. Bersih, nyaman dan ADA COLOKAN LISTRIK! Haha, saya kaget karena beberapa teman yang dari Stasiun Bandung sudah menggunakannya lebih dulu (pagi-pagi sudah charge selular :p)

Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di stasiun Cicalengka, kurang lebih 45 menit. Tergolong singkat untuk sampai di sana. Kalau pakai kendaraan angkot atau pribadi bisa sampai 2 jam. Sepanjang perjalanan di kereta, saya melihat pemandangan yang bervariasi. Ada rumah-rumah penduduk, sawah terhampar luas hingga sampah yang menumpuk di sungai. Saya cuma geleng-geleng kepala saja dan membatin “ini gimana menyelesaikannya yah sampah menumpuk di sungai?”.

Sampailah kami di Stasiun Cicalengka dengan keadaan mengantuk. Maklum terlalu antusias untuk main-main di taman nasional karena bangun terlalu subuh. Kami memutuskan untuk membeli makanan dulu sebagai konsumsi makan siang di Kareumbi. Ah, ya saya lupa membawa misting dan tentu tidak boleh membeli makanan dengan bungkus plastik. Sayapun hanya membeli biskuit dan permen saja. Itu sudah cukup.

Biaya sewa angkot Rp 300.000,00 pulang-pergi. Kami ber-14 duduk berdempet-dempet agar cukup 1 angkot saja. Kata Pak Dicky, selaku koordinator kegiatan ini, dari stasiun ke taman nasional memakan waktu 1 jam. “Baiklah, akan menjadi perjalanan panjang”, batinku.

Kami tidak merasa bosan meskipun waktu yang dibutuhkan untuk sampai Kareumbi 1 jam. Kami diberikan pemandangan yang sangat indah. Sawah, gunung, dan Curug Cinulang yang bisa dilihat dari jalan raya. Beberapa diantara teman kantor ada yang tertidur. Namun, adapula yang sibuk berdendang dengan musik yang diputar pengemudi.

“Om Dick, berapa menit lagi sampai?”, saut Pak Sano. “15 menit lagi”, jawab Pak Dicky. Orang-orang sudah tidak sabar untuk sampai di Kareumbi. Tapi, jangan dikira untuk mencapai ke Kareumbi melalui jalan yang mulus yah. Kami melewati jalan yang rusak, berliku dan naik-turun. Cukup pusing kalau yang tidak biasa jalan jauh. Siapkan minyak angin, permen dan air minum untuk mengurangi pening.

Akhirnya, setelah 60 menit berjibaku dengan perjalanan yang jauh, kami tiba di pintu masuk Taman Nasional Masigit Kareumbi. Semua rekan-rekan GI turun dari angkot dengan perasaan gembira. Semua sibuk dengan kamera masing-masing untuk mengabadikan suasana alam yang menyegarkan. Perjalanan kami tidak terhenti sampai pintu gerbang saja. Kami harus melakukan (sedikit) pendakian. Seperti apa ya pendakian kami?

Tunggu edisi selanjutnya…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s