Lentera dari Citarum

Pahlawan berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas. Definisi tersebut mengandung makna bahwa pahlawan adalah seseorang yang berupaya menghasilkan sebuah karya. Pahlawan adalah orang-orang yang berjuang untuk merebut kemerdekaan tanah air. Namun, berkembangnya zaman dan kehidupan, makna pahlawan menjadi kian luas dan mengalami pembaruan makna. Tidak terbatas hanya dalam lingkup perjuangan memperebutkan negara sampai titik darah penghabisan. Namun, pahlawan saat ini adalah mereka yang mampu memberikan perubahan dan manfaat bagi lingkungan sekitarnya dengan idealismenya sendiri di berbagai bidang. Baik pendidikan, teknologi, sejarah, budaya dan lingkungan alam.

Lingkungan adalah kehidupan. Mencintai lingkungan berarti mencintai kehidupan. Inilah yang dilakukan oleh sosok pria paruh baya kelahiran Bandung, 7 Maret 1972. Tinggal bersama istri (Tati Mulyati) dan 3 orang putra-putrinya (Muhammad Dzikri, Jasmine Nadifa, Nadya Mulya Qowiya) di Kampung Babakan Cianjur Rt 02 Rw 04, Desa Cihampelas Kecamatan Cihampelas Kabupaten Bandung. Ia lahir dan besar di Bandung. Mengenyam pendidikan sebagai sarjana Matematika dari Universitas Padjadjaran Bandung yang beralih menjadi seorang pahlawan lingkungan.

Kecintaannya kepada Bandung ia tunjukkan dengan mendedikasikan diri pada pemberdayaan masyarakat dan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya . Berbekal dengan rasa prihatin menghadapi masalah lingkungan yang tidak kunjung terselesaikan dan semakin rusak, ia memutuskan untuk terjun langsung menjadi penyelamat lingkungan dan berjuang menyelesaikannya. Beliau melihat ada beberapa himpunan masalah yang dihadapi oleh masyarakat di sekitar Citarum. Pertama, adalah kerusakan lingkungan dengan berbagai elemennya. Elemen-elemen tersebut adalah masalah sampah plastik yang semakin menumpuk di sungai, kehadiran gulma eceng gondok dan pendangkalan Citarum. Kedua, adalah masalah yang sangat penting dan mendasar yaitu kemiskinan yang dihadapi oleh masyarakat yang tinggal di wilayah Citarum.

Indra Darmawan berupaya mendekatkan kedua himpunan itu dan mencoba untuk mencari titik tengahnya. Dengan begitu akan diperoleh simbiosis mutualisme antara kedua masalah tersebut yang juga mampu menyelesaikan masalah secara lengkap dan terintegrasi. Oleh karena itu, Indra memberikan solusi dengan pemberdayaan masyarakat. Apa saja yang ia lakukan?

Sampah plastik dan eceng gondok, dua benda yang dimanfaatkan oleh Indra. Ia memanfaatkan sampah plastik, gulma eceng gondok dan daerah sempadan Citarum untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat yang bertempat tinggal di Citarum. Bersama dengan masyarakat ia mengembangkan daur ulang limbah/ sampah plastik, membuat kreasi dari eceng gondok dan melakukan penghijauan dengan menanam banyak pohon di sekitar Waduk Saguling yang menjadi cikal bakal Hutan Komunitas Saguling. Untuk menampung barang-barang hasil kreativitas yang dibuat oleh masyarakat setempat dengan membuat bazar sampah. Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat,  Indrapun melakukan pelatihan dan penyuluhan tentang usaha pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi di Bandung dan beberapa kota lainnya.

Menghadapi sebuah proses dan mendedikasikan diri dalam bidang lingkungan tidak selamanya berjalan sesuai dengan rencana dan yang diharapkan. Indra Darmawan menghadapi lika-liku perjalanan sebagai seorang pahlawan lingkungan. “Kesulitan dari kurangnya dukungan Pemda”, tuturnya. Baginya, program pemerintah hanya mimpi semata. Sedangkan, masyarakat memiliki semangat dan realita yang dapat diwujudkan secara mandiri. Program pemerintah tidak pernah selaras dengan keadaan konkret masyarakat. Pada akhirnya, masyarakat harus berdikari dan menunjukkan manfaat bagi mahkluk hidup lainnya, termasuk alam.

Sosok Indra Darmawan pantas disebut sebagai pahlawan lingkungan. Meskipun telah menggapai kesuksesan melalui perjuangannya memberdayakan masyarakat, masih banyak cita-cita yang belum terwujud dan ingin segera direalisasikan. “Saya ingin menghijaukan Citarum dan memberdayakan masyarakat yang bermukim di sekitar Citarum”, ucap Indra penuh harap. Mimpi-mimpi yang harus ia bangun yaitu membuat minimarket untuk sampah, membuat klinik sampah, membuat Rumah Pintar untuk anak-anak pemulung, membuat ruang terbuka hijau di sekitar waduk untuk tempat rekreasi masyarakat, dan membuat labolatorium entrepreneur di Waduk Saguling. Semua fasilitas pemberdayaan masyarakat itu harus melalui berbagai upaya dan proses yang panjang. Tentu saja membutuhkan dukungan dari berbagai macam pihak. Terutama dari pihak pemerintah sebagai regulator dan pengimplementasi kebijakan.

Pada hari pahlawan 10 November 2014 ini dapat menjadi ajang yang tepat untuk membuktikan diri bahwa kita bisa menjadi pahlawan. Baik bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan sosial maupun lingkungan sekitar. Tidak hanya sekadar selebrasi semata tetapi harus direnungi bersama. Bermanfaat bagi orang lain adalah jalan terbaik untuk memberikan perubahan sekecil apapun itu. Indra Darmawan telah membuktikannya. Menjadi pahlawan lingkungan banyak memberikan manfaat besar dan mampu mengubah hidupnya.

Menurut pandangan Indra, pahlawan adalah seseorang yg berjuang tanpa pamrih, bagaimana hidup didedikasikan buat kemaslahatan orang lain. “Pahlawan tidak untuk dikenang tetapi untuk diteladani”, pungkasnya. Beliau berpesan kepada generasi muda di Indonesia agar tetap menjadi diri sendiri yang senantiasa berbuat kebaikan untuk sesamanya dan generasi yang mampu menebarkan benih-benih kebaikan dan untuk hasil yang paling benar adalah berharap kepada Allah Swt. (Adisa Soedarso)

Sumber : www.wikipedia.com dan wawancara dengan Indra Gunawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s