Jalan-Jalan ke Masigit Kareumbi (Bagian 2)

Halo, sepertinya sudah agak lama saya menggantung cerita liburan ke Masigit Kareumbi. Oke, kali ini saya lanjutkan perjalanan menelusuri Taman Buru Masigit Kareumbi. Simak ya!

Setelah sampai di pos Wanadri, kami bersiap-siap untuk menjelajahi wilayah hutan. Rencana awalnya, kami akan memberikan tas trek Save Turtles Bagoes kepada rekan-rekan Wanadri dan kami akan turut menanam beberapa pohon di hutan tersebut. Sayangnya, rekan Wanadri ada kegiatan di tempat lain. Sehingga, rencana itu gagal dilakukan. Tapi, kami tidak kecewa. Niat awalnya memang untuk menikmati taman konservasi yang sejuk dan jauh dari hiruk-pikuk kota yang bising dan penuh polusi. Setidaknya, kami akan belajar untuk menghargai alam dan mempraktikkan eco tourism yang saat ini sedang ramai dipromosikan.

Menurut informasi yang saya dapat, Taman Buru Masigit Kareumbi terletak di tiga wilayah administrasi, yaitu Sumedang, Bandung dan Garut. Luar biasa luasnya, bukan? Kisarannya +/- 12.000 ha. Wow! Tak bisa membayangkan bagaimana caranya menjelajahi wilayah Kareumbi ini. Mungkin, hanya anak Wanadri yang tahu :p

Kami mulai menapaki jalan berkerikil menuju sebuah desa yang berada di tengah kawasan Taman Buru. Masing-masing dari kami sibuk menikmati pohon-pohon yang tinggi dan menebak nama pohon-pohon yang terletak di sisi kiri dan kanan jalan. Diantara kami banyak yang tidak paham mengenai jenis flora apa saja yang tumbuh di Taman Buru. Tidak satupun pihak pengurus Taman buru yang menemani kami. Jadi, cuma bisa jaln-jaln saja. Menuju ke desa di tengah hutan, burung-burung bercicit tapi tidak kami lihat satupun fauna yang ada. Baik burung maupun rusa.

Untuk sampai di tengah desa Taman Buru, membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Lumayan melelahkan sih, tapi sangat layak untuk dinikmati. Sekeliling hanya dapat melihat hijaunya pepohonan bercampur dengan langit cerah menambah kenikmatan plesiran. Jangan kira di tengah hutan kita hanya lihat pohon ya. Di sana juga terdapat beberapa fasilitas seperti kedai untuk makan, rumah pohon untuk menginap dan masjid.

Tiba di tengah desa, saya sempat terperangah. Saya pikir hutan itu sepi, sunyi, namun di tengah kesunyian itu terdapat warga yang tinggal dan hidup di hutan. Barangkali kalian berpikir bahwa hidup di hutan itu minim fasilitas. Ini sebaliknya. Sudah ada masjid, pendopo dan warung untuk jajan. Mereka bukan masyarakat adat, tapi warga biasa yang memang lokasi tinggalnya di Taman Buru. Sepertinya, mereka hidup dari bercocok tanam. Sekitar wilayah mereka tinggal terdapat beberapa lahan pertanian jagung yang tumbuh subur.

Di seberang rumah-rumah warga tampak jejeran pohon-pohon pinus. Gambarannya seperti panorama film Twilight kali yah. Rapi, cantik, sejuk, hijau, asri dan ciamik kalau difoto. Tentu kami semua tidak menghilangkan kesempatan untuk mengabadikan pemandangan indah ini yang tidak bisa ditemukan di Bandung.

Kami bertemu dengan beberapa TNI yang sedang latihan mental dan fisik di sana. Berhubung kami datang dihari Jumat dan sampai tepat pukul 12.00 WIB, para pria langsung melaksanakan shalat Jumat. Sedangkan, para perempuan bersiaga untuk membuka rantangnya masing-masing dan menyantap makanan yang dibawa. Sudah lama rasanya tidak nge-botram. Makan bersama-sama dan di alam bebas yang segar dan menyejukkan.

Kesejukkan yang kami nikmati bersumber dari rintikan hujan yang turun tiba-tiba dan deras seketika. Akhirnya, kami putuskan untuk singgah lebih lama di pendopo desa bersama beberapa bapak-bapak TNI. Ternyata, langit tetap tidak bersahabat. Kami memutuskan untuk kembali ke posko depan. Karena, kami tidak bisa memastikan kapan hujan berhenti dan berapa lama untuk menunggu.

Masing-masing dari kami sudah mengenakan dengan jas hujannya. Meskipun ukuran jas hujan kami besar, tapi tetap tidak menghilangkan kesempatan air hujan yang deras untuk masuk ke sela-sela jas hujan. Alhasil, tidak ada satupun diantara kami yang sampai ke posko dalam keadaan kering. Semua basah kuyup.

Kami mampir sejenak di kedai makanan untuk membeli teh manis hangat dan sedikit cemilan. Tidak lupa menjemur jas hujan yang basah dan mengangin-anginkan pakaian agar kering. Cuacanya tidak mendukung kami untuk mengeksplor wilayah lainnya termasuk rumah pohon. Padahal, akan terasa nikmat jika menikmati semilir angin di atas pohon.

Sedikit kecewa karena hujan terus mengguyur tanpa henti dan baju sayapun tidak kering-kering. Menggigil dan jari-jari sudah mengeriput. Jaketpun basah. Sama sekali tidak bawa baju. Jadi, hanya menghilangkan dingin dengan mengamati keadaan sekeliling saja yang rimbun oleh pepohonan tua.

Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Kereta pulang akan datang sekitar jam 16.30 WIB. Kami bergegas mengemas jas hujan dan barang-barang yang kami bawa. Waktu yang ditempuh untuk pulang tidak berbeda dengan waktu datang. Cukup jauh dan harus mengestimasi waktu agar tidak ketinggalan kereta.

Kamipun pamit dengan bapak-bapak TNI dengan perasaan yang cukup bahagia. Meski, untuk menjelajahi Kareumbi belum dilakukan secara maksimal, namun kami semua pulang dengan wajah sumringah. Sepanjang perjalanan dari Kareumbi ke stasiun Cicalengka, teman-teman GI terlelap dengan nyenyak. Satu jam cukup untuk menyimpan tenaga setelah berjalan menyusuri Taman Buru Masigit Kareumbi.

Setibanya di stasiun, kami berburu bakso untuk menghangatkan tubuh sambil menunggu teman-teman yang lain beli tiket kereta. Cukuplah untuk persediaan selama di kereta. Oh ya, jadwal kereta ada 2, yaitu kereta patas dan kereta ekonomi biasa. Kalau patas sedikit lebih bagus dan harga tiket lebih mahal. Kereta ekonomi biasa hanya Rp 1.500,00. Meski murah, tapi fasilitas di kereta bagus dengan AC, stop kontak dan bangku yang bersih.

Berhubung kaos saya basah dan tidak kering-kering, Teh Ratih berbaik hati meminjamkan sweater-nya, khawatir saya masuk angin. Jadi, buat siapapun yang ingin melancong ke Kareumbi siap-siap baju ganti untuk antisipasi yah kalau hujan dan basah kuyup bisa ganti baju.

Kereta ekonomi menuju Bandung sudah siap untuk berangkat. Bangku tidak banyak terisi penumpang karena para pekerja tinggal di Cicalengka dan bekerja di Bandung. Sehingga, yang ramai pada jam-jam seperti ini bukan dari Cicalengka, melainkan dari Bandung.

Menyenangkan plesiran singkat ini. Tidak mengecewakan untuk berkunjung ke Masigit Kareumbi. Selain berwisata kita juga bisa sambil belajar mengenai alam, flora maupun fauna. Kalau bisa janjian dulu dengan pihak Wanadrinya agar menjadi tour guide kita. Tentu kita tidak ingin pulang ke rumah dengan tangan kosong dong?

Hampir lupa, menuju Kasigit Kareumbi ini kita juga bisa mampir ke Curug Cinulang. Lokasinya searah dengan Masigit kareumbi. Jadi, tidak hanya hutan tapi air terjun juga bisa kita sambangi.

Berikut ini tips dari saya untuk ke Masigit Kareumbi :

1. Bawa makanan, minuman

2. Bawa topi, jas hujan, sendal, mukena

3. Bawa jaket dan baju ganti.

4. Bawa uang secukupnya. Ke Kareumbi gak perlu bawa uang ratusan ribu. Cukup Rp 100.000,00 juga sudah bisa membeli tiket PP, makanan ringan dan sewa angkot.

5. Bawa misting dan tumbler ya jangan sampai nyampah di hutan.

Sekian cerita dari saya tentang perjalanan ke Masigit Kareumbi. Semoga bisa menjadi petunjuk kalian kalau mau plesir ke Taman Buru Masigit Kareumbi.

Sampai jumpa dicerita selanjutnya ya🙂

Nb: Foto nyusul ya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s