Bank Sampah Babakan Sari Bandung

Sejak SMA, 8 tahun lalu, saya berniat untuk mengirimkan botol-botol sampo yang menumpuk di rumah ke produsen. Membingungkan jika terus menumpuk botol-botol kosong tanpa jelas dimanfaatkan apa benda-benda itu. Sempat berpikir, “botol tempat sampo, saos atau air mineral itu diciptakan untuk dibuang ya. Sayang banget.” Ya, memang seperti itu keadaannya. Kita hanya memanfaatkan isi dari botol tersebut. Niat mengirimkan kembali sisa botol saya urungkan karena cemas kalau tindakan ini mengganggu perusahaan.

Pembungkus makanan, botol air mineral, sampo, saos dan yang lainnya kalau dibuang begitu saja tentu tidak akan memberi solusi. Tetapi, justru akan menambah masalah. Dibuang ke tempat sampah, diambil oleh petugas kebersihan, dikumpulkan di TPS, akhirnya diangkut ke TPA. Lalu, di TPA hanya didiamkan saja hingga menumpuk, menimbulkan bau yang tidak sedap, menimbulkan penyakit sampai pada bencana alam yang pernah terjadi di Bandung.

Permasalahan ini tidak kunjung ditemukan penyelesaiannya. Sampah ternyata hanya berpindah tempat saja. Tidak berkurang sedikitpun. Justru memberikan kerugian bagi orang lain. Sampah yang kita hasilkan, tidak kita daur ulang atau kita manfaatkan lagi. Tetapi, bergeser ke TPA yang lokasinya dekat dengan pemukiman warga. Tentu saja sampah organik dan anorganik dicampur begitu saja. Pembusukannya sangat membahayakan bagi kesehatan. Zat kimia bisa saja tercampur ke dalam tanah dan merusak kondisi air maupun tanah di sekitar wilayah TPA.

Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengurangi timbunan sampah, yaitu dengan upaya reduce, reuse, recycle. Pilah dan pilih sampah salah satu alternatif untuk meminimalisir sampah yang kita hasilkan. Di halaman rumah ada baiknya dibuat lubang biopori sebagai media penyerap air dan tempat yang digunakan untuk membuat pupuk alami dari sampah rumah tangga yang paling banyak menyumbang sampah.

Jika kita sudah terlanjur banyak memiliki sampah anorganik (botol, plastik, kaleng, dll) bisa kita manfaatkan untuk mendaur ulang barang-barang tersebut. Kalaupun tidak ada waktu untuk melakukannya, bisa kita sumbangkan kepada pemulung atau ke alternatif lain yang lebih produktif. Saya menyarankannya ke bank sampah. Loh, bank sampah emang ada? Tentu saja ada.

Bank Sampah hampir sama dengan bank konvensional. Hanya, produk yang ditabung berbeda. Kalau bank konvensional kita menabung uang, sedangkan bank sampah kita menabung sampah khususnya sampah anorganik atau B3 (Bahan Berbahaya Beracun). Di bank sampah kita mendapatkan buku tabungan yang merekam berapa jumlah sampah yang kita tabung lalu dikonversikan dalam bentuk rupiah.

Saya termasuk orang yang sudah lama mencari bank sampah di Kota Bandung. Beberapa bulan yang lalu saya sibuk mencari bank sampah. Sayangnya, lokasi bank sampah dengan rumah saya cukup jauh. Jadi, saya kesulitan untuk membawa sampah anorganik yang sudah menumpuk di rumah. Saya cukup lama menyimpan botol, kaleng dan kemasan makanan lainnya. Karena, saya merasa bahwa sebenarnya barang-barang tersebut bisa dimanfaatkan kembali. Dibuang begitu saja tidak akan membuat sampah menjadi mudah terurai.

Setelah mencari-cari akhirnya saya mendapatkan bank sampah yang jarak antara rumah dan lokasi bank sampah tidak terlalu jauh. Bank Sampah Babakan Sari adalah bank sampah milik PD Kebersihan Kota Bandung  dan juga binaan kampus Universita Padjadjaran. Barang-barang yang bisa ditabungkan apa saja tapi hanya berlaku untuk sampah anorganik yang kemudian akan disalurkan pada organisasi pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan dengan mendaur ulang sampah-sampah tersebut menjadi barang bernilai ekonomis.

Pertama kali saya ke sana, saya membawa satu plastik besar yang berisi botol saos, sampo, minuman, kardus bekas, styrofoam dan kertas-kertas yang sudah tidak dapat digunakan. Setelah ditimbang, sampah itu beratnya 2kg dan dikonversikan menjadi rupiah senilai Rp 2.500,00. Menurut pengelola Bank Sampah Babakan Sari, akan lebih baik jika sampah tersebut sudah dipisah berdasarkan jenisnya. Misal, sampah botol sendiri, sampah kertas sendiri atau sampah plastik sendiri. Bila dipisah begitu akan mendapatkan nilai rupiah yang lebih mahal. Ini menjadi catatan sendiri bagi saya untuk mulai belajar pilah dan pilih sampah yang masih kita hasilkan. Hitung-hitung menabung uang di bank sampah dan bisa bermanfaat untuk masyarakat lainnya.

Dengan adanya bank sampah, bukan berarti kita merasa aman karena ada pihak yang akan mengelola sampah yang kita hasilkan. Namun, bank sampah adalah solusi untuk sampah yang sulit kita kurangi. Misal, botol saos, botol sampo, kardus dan kertas. Lebih baik lagi jika kita mampu mengurangi penggunaan barang-barang tersebut. Sehingga, sampah bisa berkurang dan kita turut membantu mengurangi beban petugas kebersihan yang selama ini berjuang untuk membawa gerobak berisi sampah yang sangat berat. Lingkunganpun menjadi lebih bersih dan tidak memberikan kerugian bagi masyarakat di sekitar TPA.

Sebaiknya, setiap perusahaan bertanggung jawab atas produk yang mereka hasilkan. Ternyata pemikiran saja untuk mengembalikan produk yang sudah dikonsumsi oleh masyarakat ke perusahaan ada konsepnya. Konsep tersebut adalah EPR (Extended Producer Responsibility) yaitu tanggung jawab perusahaan untuk mengelola sampah dari produk mereka. Semisal, pengembalian botol ke dalam kotak yang sudah disediakan di supermarket. Masyarakat bisa mendapatkan bonus sebuah produk jika sudah mengembalikan 10 botol parfum. Contoh sederhana ini sudah dipraktikkan oleh beberapa perusahaan besar di Indonesia.

Selain produsen, masing-masing warga memiliki tanggung jawab untuk mengelola sampah yang dihasilkan. Untuk sampah makanan atau yang mudah membusuk bisa kita olah menjadi pupuk kompos menggunakan keranjang takakura atau lubang biopori. Sampah anorganik harus kita coba kurangi minimal dengan tidak menggunakan kantong plastik saat berbelanja. Penggunaan kantong plastik hanya sebentar jika dibandingkan dengan proses produksinya yang mahal dan tidak bisa terdegradasi di tanah. Memang tidak mudah tapi pasti bisa kita coba lakukan.

Ayo mulai menabung dan menjadi nasabah bank sampah! (Adisa Soedarso)

IMG_20141221_055615_hdr IMG_20141221_055711_hdr IMG_20141221_055816_hdr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s