Mencintai Literasi Sejak Dini

Oleh : Adisa Soedarso

“Membaca dapat membuka jendela dunia.”

Slogan yang sering kita dengar sejak duduk di bangku sekolah. Maknanya sangat dalam. Menurut kacamata saya adalah dengan membaca akan membuka cakrawala dan wawasan kita mengenai ilmu pengetahuan dan sudut pandang lain mengenai berbagai hal yang bisa dipelajari di dunia ini. Membaca akan mendekatkan diri kita dengan suasana geografis, budaya dan lingkungan dari negara lain yang sulit kita tempuh secara fisik. Membaca akan mengakrabkan kita dengan ide-ide brilian seorang penulis besar yang kita kagumi. Aktivitas ini banyak memberikan perubahan baik bagi diri kita maupun memotivasi orang untuk membuat perubahan. Dengan begitu bisa kita nyatakan bahwa membaca adalah aktivitas mulia.

Data yang dikeluarkan oleh UNESCO sejak 2012 mengungkapkan bahwa minat baca di Indonesia masih sangat rendah. Angka menunjukkan 0,001 yang artinya setiap 1000 orang terdapat 1 orang yang memiliki minat baca tinggi. Sejumlah 999 anak lainnya tidak menandakan adanya minat untuk membaca. Angka yang sangat memprihatinkan dan perlu ada upaya tindak lanjut untuk menangani masalah tersebut.

Informasi UNESCO tersebut tidaklah salah. Karena berdasarkan pengamatan yang bisa kita lihat sehari-hari bahwa di setiap sudut ruang publik banyak anak-anak sekolah dan masyarakat umum yang sibuk memainkan perangkat ponselnya dibandingkan dengan membaca buku. Untuk mempertajam minat membaca masyarakat, memang tidaklah semudah memainkan perangkat ponsel. Kita terbiasa dengan budaya lisan tanpa memprioritaskan kebiasaan membaca. Padahal apa yang kita sampaikan berangkat dari apa yang kita baca. Sayangnya, kehadiran teknologi tidak mendorong kita untuk gemar membaca.

Pernyataan Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Propinsi Jawa Barat, Heni Heryani, seperti dilansir oleh Antara News mengatakan minat baca warga Jawa Barat sangat rendah. Ini disebabkan oleh minimnya akses sarana dan prasarana penunjang serta kesadaran masyarakat untuk mau maju. Begitupun dengan Kota Bandung. Tidak sedikit masyarakat yang lebih suka berkunjung ke pusat perbelanjaan dibandingkan toko buku atau perpustakaan

Minat baca yang rendah tentu memberikan dampak dan kerugian bagi kita. Persaingan sumber daya manusia menjadi lemah dan tidak berkualitas. Teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat dan mudah dikuasai jika dilakukan dengan membaca. Dengan begitu kita bisa bergerak menjadi negara maju yang masyarakatnya memprioritaskan membaca sebagai kebutuhan primer.

Banyak sekali organisasi, institusi, komunitas dan gerakan di Indonesia yang mencoba untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Seperti di Bandung sendiri terdapat beberapa komunitas yang fokus di bidang pendidikan untuk membangun semangat masyarakat akan membaca. Seperti halnya Warung Imajinasi (WI). Komunitas ini memberdayakan pemuda-pemudi Kota Bandung dengan membangun sebuah perpustakaan mini yang terletak di Jalan Dr. Curie No. 1 Bandung. Tidak hanya membuka perpustakaan mini yang bisa dikunjungi setiap hari, namun juga mengaktifkan kelas-kelas berbagi seperti Bahasa Inggris dan Jerman. Selain itu, yang lebih militan lagi, Warung Imajinasi membuka rumah baca di beberapa wilayah pelosok Jawa Barat dan mengirimkan banyak buku-buku bacaan untuk semakin meningkatkan minat baca anak-anak di sekolah.

Selain itu, upaya lainnya untuk mendorong minat baca di Jawa Barat adalah kehadiran perpustakaan Batoe Api Jatinangor yang mengakomodir keingintahuan mahasiswa-mahasiswi Unpad dalam memahami sastra melalui membaca. Sering juga diadakan seminar atau talk show dengan menghadirkan pembicara maupun tokoh sastrawan terkemuka seperti Remi Silado dan Harry Poeze.

Adapula Klub Buku Bandung, sebuah komunitas pecinta buku. Saya tergabung di dalamnya dan sempat beberapa kali mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Klub Buku Bandung. Di sini saya merasakan bahwa banyak generasi muda di Kota Bandung yang mempunyai minat tinggi untuk membaca. Meskipun jarang bertatap muka, namun sering berdiskusi serta bertukar informasi buku bacaan melalui media daring.

Sejak 2 tahun terakhir, Kota Bandung rajin menyelenggarakan pameran buku. Awal tahun selalu ramai dengan acara Pesta Buku Bandung. Acara ini diadakan 2 kali dalam setahun yang menghadirkan stand-stand penerbit buku baik skala nasional maupun penerbit Bandung dengan koleksi buku yang berlimpah. Di sana kita bisa menemukan berbagai jenis buku dan mencari apa saja yang kita butuhkan. Kesempatan emas lainnya adalah kita berjumpa dengan banyak kawan yang mempunyai minat baca sangat tinggi dan memotivasi kita untuk mampu melakukan hal yang sama.

Pertengahan tahun, selalu ada acara serupa seperti Pesta Buku Bandung. Universitas Padjadjaran sering menyelenggarakannya baik di kampus Jatinangor maupun Dipati Ukur. Lembaga pendidikan sejatinya menjadi pendorong masyarakat untuk mendukung peningkatan minat baca masyarakat dengan berbagai upaya. Salah satunya dengan pameran dan diskusi buku. Saat inipun Kota Bandung sedang berusaha semaksimal mungkin agar minat baca masyarakat meningkat pesat.

Kota Bandung sendiri mendirikan sebuah taman yang menyediakan perpustakaan kecil dengan beberapa koleksi buku, yaitu Taman Gesit yang terletak di Jalan Dipati Ukur. Dengan kehadiran taman ini, diharapkan dapat menstimuli masyarakat untuk membaca di ruang publik. Munculnya rumah baca dan perpustakaan di Kota Bandung dan Jawa Barat menjadi salah satu indikator minat baca masyarakat yang tinggi. Namun, yang terpenting dan utama adalah masyarakat yang rutin mengunjungi perpustakaan, rumah baca dan saling berdiskusi mengenai buku. Akan sia-sia jika banyak rumah baca dan perpustakaan tapi sepi pengunjung. Pemerintah dan elemen masyarakat lain harus bergotong-royong mencari solusi dari masalah krusial ini.

Harus diakui, masyarakat Indonesia lebih menyukai menonton televisi dan mendengarkan radio dibandingkan membaca. Mayoritas menyajikan nuansa hiburan audiovisual dan minim sisi edukasi. Namun, bukan berarti kita harus patah arang dan menerima data begitu saja. Mengentaskan masalah ini tidaklah mudah. Selaiknya, kita berkaca diri bahwa sudah saatnya untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan mengubah angka data tersebut secara signifikan. Kita harus menjadi bangsa besar, kuat dan mandiri yang masyarakatnya cinta membaca sejak dini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s