Tentang Masa Depan

Belakangan ini entah kebetulan atau memang telah ditakdirkan, beberapa kawan kantor mengalami hal yang sama denganku. Gamang tentang MASA DEPAN. Ya, masa depan adalah sesuatu yang semua orang pikirkan. Jodoh, pekerjaan, cita-cita dan ke mana arah hidup akan dibawa. Masa-masa seperti ini akan dialami oleh mereka yang berada pada rentang usia 18-30 (ini asumsi saya saja hasil pengamatan). Tidak salah memikirkan masa depan. Justru harus dipikirkan matang-matang ke mana kaki akan melangkah. Tapi, apakah terlalu berat jika kita memikirkan masa yang belum tahu seperti apa wujudnya?

Saat ini aku bekerja di sebuah organisasi lingkungan yang sedang berkembang dan bergerak maju. Aku senang bekerja di sini. Namun, ada beberapa hal yang berkecamuk di kepalaku. Selama beberapa bulan terakhir ini aku berpikir tentang masa depanku. Apakah aku tetap di sini atau harus berlayar ke tempat yang lain? Karena, aku harus terus mengembangkan kemampuanku sebagai manusia. Ini naluriah karena manusia diciptakan untuk menjadi insan yang tidak pernah puas dan berupaya mengaktualisasikan diri.

Aku termasuk individu yang mempunyai banyak mimpi. Terlalu banyak mungkin. Sampai tak satupun yang terwujud secara sempurna. Aku ingin menjadi penulis, pemain teater, aktivis, penari balet, pemain music, model, penyanyi, bintang iklan, pelukis, pebisnis, pembawa acara dan segudang mimpi lainnya. Khayal? Mungkin saja. Namanya mimpi pasti setinggi-tingginya. Apalagi untuk masa depan. Jujur, aku ingin merancang masa depanku dengan baik, sehingga hidupku tak datar-datar saja dan bisa memberi banyak manfaat untuk orang lain. Karena, aku orangnya dinamis. Tidak bisa diam saja dan ingin berekspresi dengan bebas.

Orang tuaku ingin aku bekerja kantoran seperti PNS atau BUMN. Sungguh aku kurang suka bekerja seperti itu. Dari kecil aku terbiasa hidup berpindah-pindah tempat antara kota yang satu dengan yang lain mengikuti ayahku bekerja. Jadi, secara kumulatif aku terbiasa beradaptasi dengan berbagai kondisi. Secara tidak langsung memupuk jiwaku yang ingin berpetualangan ke tempat manapun yang aku suka dan memilih jalan hidupku sendiri (baca : memilih profesi). Namun, tetap saja orang tua mau aku bekerja seperti mereka dahulu. Datang ke kantor, duduk bekerja, sore/ malam pulang. Begitu seterusnya setiap hari. Berpuluh tahun.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku bila aku bekerja sesuai apa yang orang tuaku mau. Dan entah mengapa mereka ‘keukeuh’ aku harus seperti itu. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti kata hatiku sendiri. Bekerja di sebuah LSM lingkungan. Sesuai dengan pilihanku. Alhamdulillah banyak belajar di sini untuk semakin sayang kepada lingkungan.

Balik lagi ke cerita awal. Aku bersama beberapa kawan kantor mengalami masa-masa kebimbangan menghadapi hidup dan masa depan, khususnya karir. Entah mengapa aku bingung akan membawa ke mana kaki ini. Situasi seperti ini harusnya aku rasakan saat masa-masa kuliah. Tapi, saat kuliah aku justru tidak mengalami kekhawatiran sama sekali. Aku menikmati setiap perjalanannya. Padahal, kalau dipikir-pikir berat juga apa yang aku hadapi saat kuliah.

Aku selalu merasa apakah aku terlalu egois memikirkan idealismeku sendiri. Aku terlalu sibuk di berbagai komunitas yang bergerak di bidang pendidikan dan lingkungan. Hingga melupakan bahwa aku harus memikirkan orang tuaku. Namun, salahkah aku kalau aku ingin banyak anak-anak di Indonesia dapat mengenyam pendidikan sesuai hak-hak dasarnya? Salahkah aku ingin membantu agar masalah lingkungan dapat terselesaikan dengan baik? Apakah baiknya aku mengikuti saran orang tuaku dengan bekerja kantoran dan melupakan cita-citaku?

Entah langkah apa yang bisa aku lakukan sekarang ini. Aku hanya ingin bahagia dengan jalan yang aku pilih. Tanpa adanya intervensi dari manapun. Aku tahu bahwa orang tua inginkan yang terbaik untuk anaknya. Namun, kalau aku mengikuti apa yang disarankan orang tua tapi tidak sesuai kata hatiku dan aku tidak bahagia juga sebuah kegagalan. Jadi, apa yang harus aku lakukan?

Kawanku di kantor mengalami kondisi yang tidak jauh berbeda denganku. Bingung ? Iya. Galau? Sudah pasti. Solusi? Sedang dicari. Ini yang sulit. Mencari sesuatu yang memang benar-benar kita ingin dan butuhkan bukan perkara mudah. Perlu perenungan dan diskusi dengan orang-orang terdekat untuk mengetahui lebih dalam masa depan seperti apa yang hendak kita ciptakan.

Teman-temanku di kantor sedang berupaya untuk menggapai apa yang mereka cita-citakan. Ada yang berbisnis dan sekolah lagi. Namun, lagi-lagi tantangan selalu menjadi cobaan yang meskipun sulit tapi harus dihadapi dengan bijaksana. Untuk menyelesaikannya, kami selalu mempunyai waktu istirahat yang diisi dengan curhat mengenai masa depan. Saling memberi pendapat dan berdiskusi perkara apa saja yang menarik untuk didiskusikan. Ujung-ujungnya tetap galau. Haha (ini jangan ditiru yah!). Begitulah benturan-benturan usia seperti ini. Terselip juga masalah jodoh *ehem*. Tapi, hanya 20% kok dibandingkan dengan pembahasan mengenai masa depan pekerjaan.

Memberikan semangat kepada orang lain lebih mudah dibandingkan menyemangati diri sendiri. Oleh karena itu, perlu teman untuk saling menyemangati. Paling tidak, kita bisa membuat susunan masa depan kita yang sesuai dengan kebutuhan dan saran dari kawan. Usahakan juga tingkatkan kemampuan kita karena kebutuhan hidup semakin berkembang. Yang penting adalah selalu ikuti kata hati, jujur dan bertanggung jawab atas pilihan yang telah kita buat.

Nah, yang jadi pertanyaan selanjutnya, masa depan seperti apa yang ingin aku gapai? (AS)

Bandung, 2 Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s